Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Alami Trauma, Ini Langkah Trauma Healing yang Dilakukan

- Minggu, 09 November 2025 | 18:40 WIB
Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Alami Trauma, Ini Langkah Trauma Healing yang Dilakukan
Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Masih Alami Trauma, Mendesak Trauma Healing Dilakukan

Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta Masih Alami Trauma, Proses Pemulihan Dimulai

Para korban ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta pada Jumat (7/11) dilaporkan masih mengalami trauma mendalam pasca-insiden tersebut. Menteri Sosial, Syaifullah Yusuf, mengonfirmasi hal ini setelah melakukan peninjauan langsung ke Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) Cempaka Putih.

Komitmen Pemerintah untuk Proses Trauma Healing

Menteri Sosial menyatakan bahwa proses pemulihan trauma atau trauma healing akan segera dilakukan untuk membantu para siswa. "Secara pelan-pelan nanti anak-anak ini didampingi oleh Kepolisian, Kementerian Sosial, dan pihak RSIJ," ujarnya pada Ahad.

Proses rehabilitasi ini tidak hanya berlangsung di rumah sakit, tetapi juga akan berlanjut di sekolah dan rumah masing-masing korban. Pendampingan rutin akan melibatkan orang tua serta asesmen bersama Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

Kondisi Korban Mulai Membaik

Dalam kunjungannya, Mensos telah bertemu dengan keluarga dan korban yang dirawat. Meski masih trauma, para korban sudah mulai bisa bercerita sedikit demi sedikit tentang kejadian yang mereka alami. Orang tua murid juga menyampaikan rasa syukur karena anak-anak mereka menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

Dukungan dari KPAI dan RSIJ

Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, mengapresiasi langkah cepat pemerintah dan pihak RSIJ Cempaka Putih. RSIJ telah memberikan rehabilitasi medis, dan rencananya akan dilanjutkan dengan rehabilitasi psikososial.

KPAI bersama kementerian dan lembaga terkait berkomitmen untuk terus mendampingi anak-anak korban hingga mereka mendapatkan keadilan.

Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat memulihkan kondisi psikologis para siswa dan mengembalikan mereka ke aktivitas normal secepat mungkin.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar