Guntur Romli Ingatkan Bahaya Kekuasaan Absolut di Balik Wacana Koalisi Permanen

- Selasa, 09 Desember 2025 | 14:35 WIB
Guntur Romli Ingatkan Bahaya Kekuasaan Absolut di Balik Wacana Koalisi Permanen

Di Sekolah Partai PDIP Lenteng Agung, Selasa lalu, politikus Guntur Romli akhirnya angkat bicara soal wacana koalisi permanen yang digaungkan Ketum Golkar, Bahlil Lahadalia. Guntur terlihat hati-hati menyikapinya. Bagaimanapun, posisi partainya sudah jelas.

"Kami sebenarnya tidak punya kapasitas untuk berkomentar panjang lebar soal usulan itu," ujarnya.

Guntur mengingatkan, keputusan PDIP untuk menjadi penyeimbang di luar pemerintahan adalah hasil kongres. Itu sudah final. Namun begitu, ia tak bisa menutup mata. Ada bahaya yang mengintai dari ide koalisi permanen jika benar-benar diterapkan.

"Yang mau kami ingatkan, jangan sampai niat membangun koalisi permanen malah berujung pada kekuasaan absolut," tegas Guntur.

Ia lalu mengutip pepatah lama yang masih relevan: power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely. Kekuasaan mutlak, menurutnya, punya potensi besar untuk merusak.

Wacana ini sendiri pertama kali mengemuka di puncak HUT Partai Golkar ke-61 di Istora Senayan. Di hadapan Presiden Prabowo Subianto yang hadir langsung, Bahlil dengan lantang menyampaikan gagasannya. Ia menilai pemerintahan yang kuat butuh stabilitas politik yang kokoh.

"Lewat mimbar terhormat ini, izinkan kami memberi saran. Perlu dibuatkan koalisi permanen," seru Bahlil pada Jumat (5/12) itu.

Acara itu juga dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Bahlil tampak bersemangat. Ia ingin partai-partai pendukung pemerintah benar-benar kompak, tidak plin-plan.

"Jangan koalisi in-out. Jangan seperti lagu 'di sana senang, di sini senang'," tuturnya disambut riuh peserta.

Menurut Bahlil, kerangka koalisinya harus jelas dan ditegakkan dengan prinsip yang kuat. "Kalau menderita, ya menderita bareng-bareng. Kalau senang, juga senang bareng-bareng. Ini dibutuhkan gentleman's agreement yang kuat," lanjutnya penuh keyakinan.

Nah, usulan yang satu ini jelas akan memantik perdebatan panjang. Terutama dari partai-partai yang memilih posisi sebagai oposisi atau penyeimbang. Panggung politik kita, tampaknya, akan semakin panas.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar