Menteri Ferry: Kopdes Merah Putih Gantikan Peran Tengkulak, Wujudkan Kedaulatan Pangan

- Senin, 08 Desember 2025 | 18:15 WIB
Menteri Ferry: Kopdes Merah Putih Gantikan Peran Tengkulak, Wujudkan Kedaulatan Pangan

Di tengah hiruk-pikuk Jakarta, Menteri Koperasi Ferry Juliantono berbicara blak-blakan soal ekonomi kerakyatan. Intinya sederhana: rantai pasok yang berbelit dan mahal harus diputus. Itulah misi utama dari program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, atau yang biasa disebut Kopdes Merah Putih. Dengan terobosan ini, nilai tambah diharapkan tak lagi menguap di tangan para tengkulak, melainkan kembali mengalir ke petani, nelayan, dan warga desa.

“Kami menghadirkan Koperasi Hub dan Kopdes Merah Putih sebagai simpul penghubung,” ujar Ferry dalam sebuah keterangan tertulis, Senin (8/12/2025).

“Distribusi jadi lebih efisien, harga lebih terjangkau. Pada akhirnya, kesejahteraan pelaku usaha rakyat pun bisa meningkat,” tambahnya.

Pernyataan itu disampaikannya dalam BIG Conference yang mengusung tema membangun ekonomi kerakyatan. Menurut Ferry, kopdes ini bukan sekadar warung sembako biasa. Ia dirancang sebagai alat strategis untuk membangun kemandirian, terutama di sektor pangan dan energi.

Lalu, seperti apa konsep kedaulatan yang dimaksud?

“Kedaulatan pangan itu impornya dikurangi. Semua barang harus dari sumber daya alam kita sendiri, diproses kita sendiri, dibiayai kita sendiri. Itulah makna sebenarnya,” ungkapnya tegas.

Ia punya gambaran yang cukup detail. Kehadiran Kopdes Merah Putih diharapkan bisa memicu industri pasca panen. Hasil bumi tak lagi sekadar dijual mentah. Di sana, gabah atau komoditas lain bisa dikeringkan dengan alat dryer. Buah-buahan dan produk segar lainnya juga akan ditangani lebih profesional dengan fasilitas cold storage agar kualitasnya terjaga.

Bahkan untuk para nelayan, kopdes ini bisa jadi penyelamat.

“Hasil tangkapan ikan bisa langsung disimpan di cold storage. Kopdes juga bisa menyediakan solar dan es batu untuk keperluan melaut,” kata Ferry.

Visinya jauh ke depan. Ferry menyebut Indonesia akan segera memiliki jaringan lebih dari 80 ribu gerai sembako yang dikelola secara modern. Barang-barangnya tak hanya dari swasta atau BUMN, tapi lambat laun didorong untuk diproduksi sendiri oleh koperasi dan masyarakat. “Sudah waktunya,” serunya, “Indonesia kembali menjadi bangsa produsen.”

Dampaknya diharapkan berantai. Munculnya industri kecil ini akan membuka lapangan kerja yang luas. Ferry menegaskan hal ini sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto.

“Presiden menginginkan ekonomi rakyat kembali berdaulat, dan itu akan diwujudkan melalui koperasi,” tegasnya.

Secara garis besar, Ferry menjabarkan tiga fungsi inti Kopdes Merah Putih. Pertama, tentu saja sebagai penyalur kebutuhan pokok sehari-hari dengan harga yang stabil.

Kedua, berperan sebagai offtaker atau penampung hasil produk masyarakat desa. Mulai dari tanaman pangan, hortikultura, hingga hasil peternakan dan perikanan. Ini yang diharapkan bisa menaikkan harga jual petani.

Dan ketiga, kopdes akan menjadi ujung tombak efektivitas program pemerintah. Mulai dari penyaluran bansos, BLT, bantuan pangan non-tunai, hingga barang-barang bersubsidi seperti pupuk, elpiji 3 kg, dan minyak goreng. Semuanya diharapkan bisa tersalurkan tepat sasaran lewat simpul yang satu ini.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini