Jakarta Utara Siaga, Rob Dipicu Supermoon dan Pasang Maksimum

- Senin, 08 Desember 2025 | 13:25 WIB
Jakarta Utara Siaga, Rob Dipicu Supermoon dan Pasang Maksimum

Banjir rob kembali melanda Jakarta, terutama di wilayah utara. Warga yang tinggal di pesisir harus bersiap-siap, karena fenomena alam ini bisa mengganggu aktivitas sehari-hari dan menimbulkan kerugian.

Nah, soal penyebabnya, Pemprov DKI dan Dinas Lingkungan Hidup punya penjelasan. Intinya, alam lagi-lagi menunjukkan kekuatannya. Menurut informasi yang dibagikan lewat akun Instagram @dkijakarta dan @dinaslhdki, Bulan sedang berada pada posisi terdekatnya dengan Bumi fenomena yang disebut Perigee atau Supermoon. Tarikan gravitasinya pun jadi lebih kuat.

Apa Penyebab Banjir Rob di Jakarta Utara?

Nah, masalahnya, kondisi itu berbarengan dengan fase Full Moon. Posisi Matahari, Bumi, dan Bulan yang segaris ini secara alami bikin air laut pasang lebih tinggi. Bayangkan saja, ketika Supermoon dan Full Moon terjadi bersamaan, tarikan gravitasi itu mendorong air laut naik jauh lebih tinggi dari biasanya.

Kenaikan permukaan air laut ini paling terasa di daerah pesisir yang konturnya rendah. Dan seperti kita tahu, sebagian wilayah utara Jakarta tanahnya memang lebih rendah, bahkan terus mengalami penurunan. Jadi, ya, lebih rentan.

Saat pasang mencapai puncaknya, air bisa meluap dengan beberapa cara: langsung menerobos bibir pantai, merembes lewat saluran drainase, atau bahkan mendorong balik aliran sungai hingga meluap ke daratan. Inilah yang memicu banjir rob. Genangan air laut sementara itu bisa makin parah kalau ditambah gelombang tinggi atau angin kencang yang mendorongnya lebih jauh ke darat.

Waspada Hingga 10 Desember

Jadi, kapan kita harus waspada? Puncak pasang maksimum diprediksi terjadi pada 1 sampai 10 Desember 2025, sekitar pukul 07.00 hingga 13.00. Wilayah-wilayah yang perlu bersiap antara lain:

  • Kamal Muara
  • Kapuk Muara
  • Penjaringan dan Pluit
  • Ancol
  • Kamal
  • Marunda
  • Cilincing
  • Kalibaru
  • Muara Angke
  • Tanjung Priok
  • serta Kepulauan Seribu

Setiap lokasi punya karakteristik sendiri. Bentuk pantai, arah angin, dan penurunan tanah yang terus terjadi memengaruhi seberapa parah dampaknya.

Ketika air pasang datang, genangan mulai merayap. Jalanan pesisir terendam, aktivitas warga dan kapal melambat, permukiman rendah kebanjiran, dan area nelayan pun ikut kena imbas. Suasana jadi serba lambat dan kurang nyaman.

Lalu, Apa yang Bisa Dilakukan Warga?

Pemerintah mengimbau warga, khususnya di Jakarta Utara, untuk tetap siaga. Beberapa langkah praktis ini mungkin bisa membantu:

  • Waspadai perubahan cuaca dan kondisi laut. Kalau bisa, hindari dulu aktivitas di zona pesisir saat jam-jam pasang tinggi.
  • Periksa saluran air di sekitar rumah. Pastikan tidak tersumbat, biar genangan tidak makin parah.
  • Pantau informasi peringatan dini gelombang pasang melalui situs BPBD DKI.
  • Unduh buku panduan kesiapsiagaan yang disediakan pemerintah untuk tahu langkah-langkah detilnya.

Dan yang paling penting, dalam kondisi darurat, jangan ragu untuk menghubungi nomor 112. Lebih baik siap daripada menyesal, bukan?

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar