Banjir besar di Aceh tak hanya menyisakan duka, tapi juga mengubah peta. Kabupaten Aceh Tamiang jadi salah satu wilayah yang paling menderita. Bahkan, ada desa yang seolah-olah lenyap dari permukaan bumi, disapu arus deras.
Gubernur Aceh, Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, dengan nada berat mengkonfirmasi hal ini. Menurutnya, sejumlah kampung di provinsi itu nyaris tidak bersisa setelah dihajar banjir parah pekan lalu.
"Banyak kampung dan kecamatan yang tinggal nama sekarang. Jadi mereka sudah banyak korban,"
ungkap Mualem kepada awak media, Sabtu lalu.
Rasa sedih dan waswas menyelimutinya saat meninjau daerah terdampak. Bantuan sembako dan air bersih jadi kebutuhan paling mendesak saat ini.
"Weuh hate (sedih sekali) dan juga dengan rasa waswas kalau kita lihat beberapa kabupaten urgen sekali, parah sekali, lebih banyak korban jiwa,"
keluhnya.
"Terutama sekali di empat kabupaten. Itu Aceh Tamiang, Aceh Timur, Aceh Utara, dan sebagian Bireuen, itu yang paling kita sesali lah. Tapi apa boleh buat, itu bencana alam. Setiap bencana ada hikmahnya,"
tambah Ketua Umum Partai Aceh itu, berusaha mencari secercah penghiburan di tengah nestapa.
Hilang Ditelan Arus
Desa Sekumur di Aceh Tamiang adalah bukti nyata dari ungkapan 'hilang disapu banjir'. Keadaan di sana sungguh memilukan. Hanya sebuah masjid yang masih tegak, dikelilingi tumpukan kayu berantakan dari berbagai ukuran. Selebihnya, hanyut.
Banjir yang datang Kamis lalu begitu tinggi, hampir menyentuh atap tempat ibadah itu. Beberapa warga terpaksa bertahan di atas gundukan kayu, dengan ketinggian yang nyaris sama dengan puncak masjid. Pemukiman warga? Tak lagi terlihat. Menurut keterangan penduduk, desa mereka musnah diterjang banjir bandang.
Hendra, salah seorang warga, menyebut ada sekitar 280 rumah di Sekumur. Kini, para penghuninya mengungsi ke tempat yang lebih aman, sambil menanti bantuan yang sangat dibutuhkan.
'Lautan' Kayu dan Lumpur
Di tempat lain, tepatnya di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Karang Baru, pemandangan tak kalah suram terhampar. Banjir meninggalkan 'lautan' kayu gelondongan dan lumpur tebal. Material itu menumpuk begitu tinggi, menutupi area Pondok Pesantren Darul Mukhlishin.
Akses jalan menuju Tanjung Karang pun terblokir total. Di sekitar ponpes, hanya kayu dan lumpur yang mendominasi pandangan. Hanya bangunan masjid dan ponpes itu sendiri yang masih bisa dikenali. Kawasan sekitarnya rata, berubah menjadi hamparan limbah kayu dan tanah becek.
Korban Jiwa Terus Bertambah
Sementara itu, data korban terus diperbarui. Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, melaporkan perkembangan terbaru langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Lanud Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, Minggu (7/12).
"Izinkan kami menyampaikan laporan per hari ini, Pak Presiden, untuk korban jiwa per hari ini meninggal dunia 921 orang, hilang 392 orang, mengungsi 975 ribu orang,"
kata Suharyanto. Angka yang sungguh memilukan.
Pembahasan lebih mendalam soal penanganan bencana ini bisa disimak dalam program detikPagi. Tayang setiap Senin sampai Jumat, mulai pukul 08.00 sampai 11.00 WIB. Selain menyimak, pemirsa juga bisa berinteraksi langsung melalui kolom live chat yang tersedia.
"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"
Artikel Terkait
Peneliti BRIN Ungkap Rantai Makanan Kacau Jadi Pemicu Ledakan Populasi Ikan Sapu-Sapu di Jakarta
Israel Intersepsi 22 Kapal Bantuan Global Sumud Flotilla di Perairan Kreta, Komunikasi Armada Terputus
Mensos Gus Ipul Instruksikan Pendamping PKH di Madura Jaring Calon Siswa Sekolah Rakyat Tepat Sasaran
Polresta Serang Kota Musnahkan Lebih dari 17.000 Botol Miras Hasil Sitaan