Semua kucing itu kini ditampung di sebuah selter di daerah Kampung Teleng. Lokasinya agak terpencil, di ujung sebuah permukiman dengan jalan berbatu. Jarak ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter, membuat tempat itu cukup sunyi.
Namun begitu, Salmiati mengakui fasilitas yang ada masih jauh dari ideal. Tempat penampungan saat ini belum representatif. Impiannya sederhana tapi besar: memiliki selter yang lebih layak. Ia membayangkan sebuah tempat dengan taman, ruang terbuka, area makan yang memadai, dan tentu saja, dukungan fasilitas kesehatan untuk binatang-binatang itu.
“Harapan saya hanya itu,” ujarnya. Suaranya terdengar tenang namun penuh keyakinan. “Karena ini adalah tentang perasaan dan batin.”
Di balik gemuruh berita bencana, kisah Salmiati mengingatkan kita pada sebuah kebaikan yang sunyi. Sementara kota berbenah, perjuangannya untuk memberi para korban berbulu itu kehidupan yang lebih layak terus berlanjut.
Artikel Terkait
Genangan Air Halangi Akses ke Stasiun Halim, Penumpang Whoosh Diimbau Cari Jalur Lain
Hujan Deras di Matraman Robohkan Tiga Rumah, Warga Ajukan Bantuan Bedah Rumah
Sembilan Korban Kecelakaan Pangkep Berhasil Dievakuasi, Satu Masih Dicari
AS Kembali Bergerak di Suriah, Kali Ini untuk Pindahkan Ribuan Tahanan ISIS ke Irak