Semua kucing itu kini ditampung di sebuah selter di daerah Kampung Teleng. Lokasinya agak terpencil, di ujung sebuah permukiman dengan jalan berbatu. Jarak ke rumah warga terdekat sekitar 10 meter, membuat tempat itu cukup sunyi.
Namun begitu, Salmiati mengakui fasilitas yang ada masih jauh dari ideal. Tempat penampungan saat ini belum representatif. Impiannya sederhana tapi besar: memiliki selter yang lebih layak. Ia membayangkan sebuah tempat dengan taman, ruang terbuka, area makan yang memadai, dan tentu saja, dukungan fasilitas kesehatan untuk binatang-binatang itu.
“Harapan saya hanya itu,” ujarnya. Suaranya terdengar tenang namun penuh keyakinan. “Karena ini adalah tentang perasaan dan batin.”
Di balik gemuruh berita bencana, kisah Salmiati mengingatkan kita pada sebuah kebaikan yang sunyi. Sementara kota berbenah, perjuangannya untuk memberi para korban berbulu itu kehidupan yang lebih layak terus berlanjut.
Artikel Terkait
KPK Ungkap Kerugian Negara Rp622 Miliar dalam Kasus Korupsi Kuota Haji
Prabowo Usul Penerapan WFH dan Penghematan Energi Tiru Langkah Pakistan
Real Madrid Singkirkan Manchester City Berkat Gol Telat Vinicius
Bea Cukai Siapkan Infrastruktur Digital Antisipasi Lonjakan Penumpang di Bandara Soekarno-Hatta