Dengan pendekatan kolaboratif, fasilitas olahraga yang selama ini sepi dan kurang produktif bisa dihidupkan kembali. Tak cuma jadi ruang publik, tapi juga pusat aktivitas ekonomi warga sekitar.
Lalu, bagaimana dengan soal dana? Bima punya jawaban yang cukup realistis. Pembangunan sarana olahraga, katanya, tak harus selalu bergantung penuh pada APBD. Ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih kreatif menjajaki kemitraan.
"Kalau anggaran Pemda terbatas, bisa bermitra. Bisa model KPBU misalnya ya, bekerja sama dalam berbagai caranya," ungkap Bima.
Sebagai gambaran, ia bercerita tentang kunjungannya ke Mandalika. Di sana, Pemda setempat bekerja sama dengan pengelola kawasan untuk mengaktivasi aset melalui acara lari "Korpri Fun Night Run". Kolaborasi sederhana itu ternyata membawa dampak yang tidak kecil.
Menutup pembicaraannya, Bima berharap langkah-langkah semacam ini bisa memicu kolaborasi yang lebih luas. "Jadi ini akan memicu kolaborasi antara semua stakeholders olahraga," pungkasnya.
Jika semua pihak bergerak bersama, impian memiliki ekosistem olahraga yang sehat dan berkelanjutan, mungkin bukan lagi sekadar wacana.
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar Usai, Kemenangan Telak Dirayakan Junta di Tengah Kontroversi
Gus Ipul Soroti Data sebagai Kunci Pemberdayaan Disabilitas di HUT Pertuni
Polisi Imbau Publik Jaga Empati, Data Pribadi Lula Lahfah Jangan Disebar
Misteri Kematian Lula Lahfah: Polisi Tunggu Kunci Jawaban dari Laboratorium