Habiburokhman Buka Suara: Alasan Prabowo Pilih Rehabilitasi Ira Puspadewi

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 23:25 WIB
Habiburokhman Buka Suara: Alasan Prabowo Pilih Rehabilitasi Ira Puspadewi

Di tengah diskusi bertajuk 'Gejolak Jelang 2026: Dampak Politik Pisau Hukum Prabowo' di kawasan Menteng, Jakarta, Sabtu lalu, Ketua Komisi III DPR Habiburokhman angkat bicara. Topiknya? Keputusan Presiden Prabowo Subianto merehabilitasi mantan Dirut ASDP, Ira Puspadewi. Bagi Habiburokhman, sebenarnya kasus seperti ini bisa dihindari andai saja proses hukumnya mengacu pada KUHAP yang baru saja disahkan.

Moderator acara, Total Politik, melemparkan pertanyaan langsung. "Kenapa rehabilitasi yang dipakai Presiden sebagai pisau untuk menegakkan keadilan?" tanyanya.

Habiburokhman tak langsung menjawab. Ia memilih menjelaskan dulu sudut pandang Prabowo.

"Presiden menilainya secara komprehensif," ujarnya, membuka penjelasan.

Lalu ia menyentuh soal tekanan dalam sistem peradilan. "Kita tahu lah, pada akhirnya, posisi seseorang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka lalu di-judge bersalah, itu sulit. Baik oleh hakim praperadilan, apalagi hakim perkara pokok. Membuat putusan yang benar-benar merdeka itu berat. Hakim juga manusia, bos. Jangan kita berhenti pada formalisme wah sudah praperadilan, selesai; sudah ada putusan, ya sudah. Nggak gitu logikanya."

Menurutnya, di sinilah peran kepala negara. "Nah, ini yang harus dilihat dan dinilai secara menyeluruh oleh Pak Prabowo," tegasnya.

Habiburokhman kemudian menegaskan bahwa ketidakadilan dalam kasus Ira Puspadewi, menurut pengamatannya, terang benderang. Ia heran dengan praktik saling oper putusan antara tingkat praperadilan dan perkara pokok.

"Secara perkara pokok pun sudah ada putusannya. Menurut saya, nggak perlu lagi mengoper-alihkan ke praperadilan kalau perkara pokok sudah diputus. Seharusnya semua aspek, formalitas sampai substansi, sudah tuntas dinilai di sana," paparnya.

Ia menambahkan dengan nada lebih personal, "Tapi kalau kita lihat pakai kasat mata saja, ini jelas-jelas nggak adil. Nggak adil buat Ira Puspadewi. Jadi, janganlah bersembunyi di balik formalitas prosedur semata."

Lalu, bagaimana proses Prabowo sampai pada keputusan rehabilitasi itu? Habiburokhman menyoroti satu hal: keputusan itu diambil tanpa memedulikan survei atau citra.

"Jadi, Pak Prabowo ini nggak ambil pusing. Begitu dia memilih satu opsi, ya dia jalanin. Risiko citra turun atau pro-kontra, itu dia terima. Itulah gaya beliau," jelas Habiburokhman.

Ia menutup dengan kesan pribadinya. "Pokoknya, kalau Pak Prabowo ambil keputusan, nggak lihat hasil survei naik-turun gimana. Nggak. Dia pelajari betul-betul kasusnya, terima masukan, lalu putuskan. Titik."

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar