Kritik Said dan Kedunguan yang Terus Berkecamuk di Gaza

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 09:40 WIB
Kritik Said dan Kedunguan yang Terus Berkecamuk di Gaza

Sudah lebih dari dua puluh tahun lalu, Edward W. Said pemikir yang dikenal lewat bukunya Orientalism menulis sebuah esai tajam berjudul The Clash of Ignorance. Ia dengan tegas menolak tesis Samuel Huntington soal benturan peradaban. Bagi Said, yang terjadi bukanlah pertarungan antara Barat dan Islam, melainkan benturan kedunguan. Sebuah tabrakan yang dipenuhi prasangka buta dan sejarah yang sengaja dilupakan.

Kini, tragedi Gaza yang berkecamuk sejak Oktober 2023 seakan membawa kritik Said itu kembali ke permukaan. Konflik ini sudah lama melampaui sekadar pertikaian politik antara Israel dan Hamas. Yang kita saksikan adalah cerminan dari sebuah kedunguan struktural, di mana pembenaran ideologis dan kekerasan saling menopang.

Lihatlah kekerasan masif yang terjadi. Infrastruktur sipil hancur, kelaparan dibiarkan bahkan tampaknya dijadikan senjata. Semua ini menyingkap wajah kolonialisme modern, yang selama puluhan tahun bersembunyi di balik narasi "perang melawan teror".

Selama bertahun-tahun, dunia Barat terjebak dalam cara pandang yang sempit. Israel selalu dilihat sebagai benteng demokrasi di tengah lautan kekacauan, sementara Palestina direduksi menjadi simbol kekerasan. Narasi hitam-putih ini makin kencang setelah 9/11, lalu dipakai untuk membenarkan dukungan tanpa syarat terhadap Israel. Said punya penilaian lain. Menurutnya, ketegangan ini bukan soal peradaban yang bertabrakan, tapi lebih pada kebodohan yang sengaja dipelihara.

Pulihnya Nurani Barat

Namun begitu, serangan Israel yang kian ekstrem rupanya membuka mata banyak orang di Barat. Korban sipil yang mencapai ratusan ribu baik karena bom maupun kelaparan telah mengubah opini publik secara dramatis.

Informasi kini sulit dikendalikan. Media sosial membanjiri kita dengan visualisasi kekerasan yang tak terbendung, mengungkap fakta-fakta yang selama ini tertutup. Agresi Israel tak lagi tampak sebagai pembelaan diri, melainkan ekspansi kekuasaan yang didasari rasisme struktural.

Mitos "superioritas moral Barat" pun perlahan runtuh. Bagaimana mungkin mereka mengintervensi negara lain atas nama demokrasi, sementara di Gaza sebuah genosida dibiarkan bahkan didukung?

Masyarakat Barat, khususnya anak mudanya, tak mau diam. Gelombang demonstrasi pro-Palestina terbesar dalam sejarah modern membanjiri London, New York, Paris, dan kota-kota besar lain. Survei Pew Research 2024 menunjukkan dukungan generasi muda Amerika terhadap kebijakan militer Israel anjlok drastis pergeseran yang benar-benar baru.

Di tingkat pemerintah, perubahan juga mulai terasa. Spanyol, Irlandia, dan Norwegia kini secara terbuka mengutuk tindakan Israel. Bahkan Perancis dan Inggris, dua arsitek awal geopolitik Timur Tengah, mulai bicara soal pengakuan terhadap negara Palestina. Ini lompatan yang signifikan.

Suara dari Dalam

Yang menarik, kritik keras juga datang dari dalam. Film dokumenter Israelism (2023) menggambarkan bagaimana generasi muda Yahudi Amerika mulai mempertanyakan doktrin Zionisme yang dulu diajarkan sebagai kebenaran mutlak. Bagi mereka, kehancuran Gaza adalah pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan dalam tradisi Yahudi sendiri.

Di Israel, kelompok seperti Breaking the Silence dan B'Tselem berani membongkar praktik pendudukan dan apartheid. Pengakuan mantan tentara tentang operasi brutal mereka memberi bobot moral yang kuat.

Sejumlah lembaga HAM Israel bahkan secara gamblang menyebut sistem yang diterapkan pada warga Palestina sebagai "rezim apartheid". Klaim bahwa kritik terhadap Israel sama dengan anti-Semitisme pun semakin sulit dipertahankan.

Di kalangan intelektual, tokoh-tokoh Yahudi seperti Norman Finkelstein, Ilan Pappé, dan Noam Chomsky banyak di antaranya keturunan penyintas Holocaust secara vokal mengecam kebijakan Israel. Mereka bilang, tindakan ini bukan hanya salah secara moral, tapi juga merusak nilai etis Yahudi yang menghargai nyawa. Suara dari dalam seperti inilah yang membuat narasi resmi Israel kian kehilangan pijakannya.

Pada akhirnya, semua kenyataan ini membuktikan bahwa cara pandang esensialis ala Huntington tak punya dasar. Kedunguan struktural bisa tumbuh di mana saja; di pusat kekuasaan Barat maupun di kalangan elite Arab. Dominasi geopolitik bukan hasil pertarungan peradaban, melainkan hasil kolaborasi elit yang sama-sama abai pada keadilan.

Sebaliknya, suara-suara tercerahkan juga muncul dari berbagai penjuru. Mulai dari aktivis dan intelektual di Eropa, hingga warga biasa di Amerika yang membela Palestina. Garis pemisahnya bukan agama atau peradaban, tapi kesadaran.

Tragedi Gaza mengungkap akar masalah yang lebih dalam: struktur kekuasaan kolonial yang telah membentuk politik Timur Tengah sejak seabad lalu. Selama cara pandang yang menempatkan Israel sebagai kepanjangan tangan geopolitik Barat masih berlaku, ketidakadilan akan terus langgeng. Dan setiap usaha perdamaian hanya akan jadi kompromi semu belaka.

Sejarah mengajarkan, perdamaian tanpa keadilan hanyalah bentuk lain dari penindasan. Tantangannya kini ada di depan mata: beranikah kita mengakhiri struktur kolonial yang telah merenggut martabat jutaan manusia? Selama ketidakadilan dibiarkan, the clash of ignorance yang dikritik Edward Said akan tetap menjadi potret buram kegagalan peradaban kita.

Septa Dinata. Sosiolog dan Dosen di Universitas Paramadina.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar