Presiden Aoun Tegaskan Lebanon Tak Mau Lagi Perang, Meski Hizbullah Kritik Diplomasi

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 03:25 WIB
Presiden Aoun Tegaskan Lebanon Tak Mau Lagi Perang, Meski Hizbullah Kritik Diplomasi

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, punya pesan tegas untuk dunia. Dalam pertemuan dengan para duta besar Dewan Keamanan PBB, ia menyatakan negaranya tak ingin lagi terlibat perang dengan Israel. Pernyataan ini muncul tak lama setelah perwakilan sipil dari kedua negara duduk satu meja untuk berunding sebuah pertemuan yang disebut-sebut sebagai yang pertama dalam puluhan tahun.

“Rakyat Lebanon telah cukup menderita,” begitu kira-kira bunyi pernyataan kepresidenan yang dikutip usai pertemuan. Aoun menegaskan, “tidak akan ada jalan kembali.” Ia meminta dukungan komunitas internasional untuk membantu tentara Lebanon dalam upaya melucuti senjata kelompok-kelompok bersenjata non-negara. Targetnya, tahap pertama dari rencana pemerintah ingin diselesaikan sebelum akhir tahun ini.

“Tentara Lebanon akan memainkan perannya sepenuhnya,” tegas Aoun. “Komunitas internasional harus mendukung dan membantunya.”

Ia mengakui proses ini mungkin tak instan. “Meskipun itu membutuhkan waktu, karena rakyat Lebanon sudah lelah dengan konfrontasi militer,” tambahnya.

Di sisi lain, respons dari dalam negeri tak sepenuhnya mulus. Naim Qassem, pimpinan senior Hizbullah, menyatakan dukungannya pada jalur diplomasi. Namun, ia dengan keras mengkritik keterlibatan perwakilan sipil Lebanon dalam perundingan dengan Israel. Bagi Qassem, langkah itu adalah sebuah “kesalahan.” Kelompok milisi yang dipimpinnya itu memang dikenal keras menolak untuk melepaskan senjata.

Situasi di lapangan sendiri masih tegang. Meski gencatan senjata November 2024 sempat diharapkan mengakhiri lebih dari setahun permusuhan sengit antara Israel dan Hizbullah, ketegangan belum benar-benar reda. Israel masih kerap melancarkan serangan ke wilayah Lebanon. Tak hanya itu, mereka juga masih mempertahankan kehadiran pasukannya di lima lokasi strategis di Lebanon selatan. Fakta ini tentu saja menjadi pengingat betapa rapuhnya keadaan damai yang ada.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar