Amplop Kebahagiaan Bunda Lina: Merajut Harapan di Asrama Penuh Cerita

- Jumat, 05 Desember 2025 | 16:25 WIB
Amplop Kebahagiaan Bunda Lina: Merajut Harapan di Asrama Penuh Cerita

Suasana di asrama putri SRMA 1 Aceh Besar itu hangat, penuh tawa dan cerita. Di balik keakraban itu, ada sosok Bunda Lina Lina Maulidina Marza yang dengan caranya sendiri merajut kebersamaan. Salah satu triknya? Sebuah kegiatan sederhana bernama ‘amplop kebahagiaan’.

Malam-malam, Bunda Lina sering duduk di tepi ranjang. Mendengarkan. Saat seorang siswi datang dengan mata sembab, di situlah ia merasa jam kerjanya yang sesungguhnya dimulai. Baginya, mendengarkan keluh kesah mereka bukan sekadar tugas, tapi panggilan.

“Awalnya kami meraba, bingung sekali. Tugas wali asrama itu apa, bagaimana harus memulai,” kenangnya.

Namun begitu, keraguan itu pelan-pelan memudar. Latar belakangnya sebagai Pendamping Rehabilitasi Sosial membantunya, meski kini tantangannya berbeda: mengasuh 65 remaja putri dengan kisah hidup yang tak mudah, sepanjang hari.

p>Untuk menguatkan ikatan, lahirlah ide amplop kebahagiaan. Setiap anak menuliskan apresiasi untuk temannya di secarik kertas, lalu dimasukkan ke dalam amplop. Saat dibuka dan dibacakan, suasana pun haru. Banyak yang menangis.

“Mereka terharu karena baru tahu temannya melihat sisi baik mereka. Validasi kecil begitu sangat berarti,” ujar Lina suatu hari di awal Desember.

Ada momen yang tak pernah ia lupa. Seorang anak berbisik lirih, "Bunda boleh tidak ganti ibu saya?" Rupanya, orang tuanya baru bercerai. Pertanyaan sederhana itu menyimpan dahaga akan kasih sayang yang dalam.

Di tengah gempuran curahan hati itu, Lina justru bersyukur. Di SRMA, ia bisa membimbing mereka dengan lebih baik. “Bila anak-anak ini tidak dapat kasih sayang, bagaimana ke depan ketika dia menjadi ibu dan ayah. Itulah yang kami ajarkan,” tuturnya.

Empat bulan mengajarkannya banyak hal. Cinta tak harus selalu grand. Kadang, cuma perlu duduk mendengarkan, lalu memeluk erat sebelum si anak kembali bermain. Hal-hal kecil itu ternyata ampuh menyalakan harapan.

Perannya jelas bukan sekadar mengurus fasilitas. Lebih dari itu, membentuk karakter, menanamkan disiplin, dan menyediakan ruang aman untuk anak-anak yang datang dengan beban masa lalu.

Jadwalnya pun unik. Dua hari menginap di asrama, satu hari kerja penuh, lalu berjaga sampai pagi. Liburan? Seringkali habis untuk urusan anak-anak yang butuh perhatian. “Walaupun memang banyak hal berubah. Kadang dua hari tidak bertemu suami. Tapi beliau mendukung karena tahu saya senang dengan anak,” akunya.

Kerja ini juga soal kekompakan tim. “Jadi akhirnya ketika itu tidak dilakukan bersama oleh orang dewasa, pembentukan karakter tidak jalan,” tegasnya.

Perlahan, perubahan itu terlihat. Anak yang dulu menunduk, kini menyapa dengan ramah. Yang wajahnya sinis, belajar tersenyum. Lina ingat satu siswi yang awalnya sangat dingin enggan menyapa, nada bicaranya datar. Segalanya berubah setelah Lina memuji kerapian kamarnya.

“Besoknya dia mulai menyapa. Hari ini sudah memeluk,” katanya tersenyum. Rupanya, ia berasal dari latar belakang di mana apresiasi adalah barang langka.

Tak hanya di asrama putri. Ada cerita tentang seorang anak laki-laki yang ketahuan merokok pelanggaran yang bisa berujung dikeluarkan. Tapi sekolah memilih memberi kesempatan. “Diberikanlah gitar dan mengganti (keinginan merokok) dengan permen. Rasa percaya dirinya muncul dan rokok ditinggalkan,” jelas Lina.

Isu pertemanan adalah menu harian. Malam-malam jaga sering diisi antrean anak yang hanya ingin menangis dan didengar. Validasi perasaan hal sepele yang justru jarang mereka dapat di rumah.

“Yang mereka butuhkan itu sederhana. Dipeluk, didengar, dihargai. Mereka ingin merasa aman dan diakui,” ujarnya.

Dari obrolan demi obrolan, benang merahnya sama: kekosongan kasih sayang. Sebagian besar datang dari keluarga berkonflik, kehilangan figur ibu, atau diasuh oleh orang tua yang sibuk bekerja. Maka, bagi Lina, sekolah ini lebih dari sekadar tempat belajar. Ini adalah ruang pemulihan.

“Kalau saya tanya, di rumah dipeluk seperti ini atau tidak? Mereka jawab ingin, tapi tidak pernah,” tutupnya. Di ruang asrama yang sederhana itulah, pelukan dan amplop-amplop kecil itu bicara lebih keras daripada kata-kata.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar