Muzani Soroti Peran Ulama Saat Bencana, Al-Issa Apresiasi Harmoni Indonesia

- Kamis, 04 Desember 2025 | 22:35 WIB
Muzani Soroti Peran Ulama Saat Bencana, Al-Issa Apresiasi Harmoni Indonesia

Di tengah derasnya hujan dan kabar duka dari Aceh hingga Sumatera Barat, Ketua MPR RI Ahmad Muzani justru mengajak hadirin untuk merenung. Kekuatan bangsa ini, tegasnya, tak cuma terletak pada infrastruktur atau teknologi. Ia ada pada keteguhan batin dan semangat kebersamaan yang selama ini digaungkan para ulama dan tokoh masyarakat. Nilai-nilai itulah yang menjadi benteng saat menghadapi tantangan, termasuk bencana alam yang belakangan kerap melanda.

Pernyataan itu ia sampaikan dalam sebuah dialog bertajuk Kekuatan Ideologi Pancasila untuk Perdamaian Dunia, Kamis (4/12) lalu. Acara yang digelar di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen Jakarta itu juga menghadirkan Sekjen Liga Muslim Dunia (MWL), Muhammad bin Abdulkarim Al-Issa. Muzani membuka sambutannya dengan doa untuk korban banjir dan longsor.

"Data terakhir menunjukkan ratusan korban terdampak," ujar Muzani.

Ia menyebut banyak infrastruktur seperti jalan, jembatan, rumah ibadah, dan rumah warga rusak berat. "Kita mendoakan mereka yang meninggal diterima amalnya oleh Allah SWT. Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan," tambahnya dalam keterangan tertulis, Kamis (4/12/2025).

Menurut Muzani, Indonesia memang negeri subur nan cantik, tapi sekaligus rawan bencana. Kemampuan masyarakat menerima musibah sebagai ujian, tak lepas dari peran para kiai dan ulama. Mereka mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa setiap cobaan bisa meninggikan derajat.

"Melalui pengajian dan majelis ilmu, para kiai membentuk ketangguhan masyarakat kita," kata Ahmad Muzani.

Di sisi lain, ia juga menyoroti kekayaan ragam Indonesia. Lebih dari 17 ribu pulau, ratusan suku, dan 713 bahasa daerah hidup dalam satu kesatuan. Sejak merdeka, para pendiri bangsa sudah sepakat untuk bersatu dalam Republik Indonesia. Kesepakatan itu, menurutnya, harus terus dirawat.

"Negara ini memang tidak didirikan sebagai negara agama," tuturnya. "Tapi justru di sini, agama tumbuh subur dan saling memperkuat. Dalam negara Pancasila, menjalankan ibadah sesuai keyakinan bukan cuma boleh, tapi justru memperkokoh persatuan."

Kehadiran Dr. Muhammad Abdul Karim Al-Issa dalam dialog itu disebutnya sebagai kesempatan emas. Dunia bisa melihat langsung bagaimana kerukunan, gotong royong, dan penghormatan pada perbedaan benar-benar hidup di sini. Peran ulama dan pemimpin pesantren, dalam hal ini, sangat besar.

"Para kiai dan ulama itu pemandu rakyat. Mereka hadir untuk kepentingan bangsa, diminta atau tidak. Kami para pejabat negara ini berutang budi pada apa yang mereka lakukan di tengah masyarakat," ujar Muzani.

Ia pun berterima kasih pada Muhammad Al-Issa dan rombongan atas doa serta perhatiannya. "Kehadiran beliau memberi semangat bahwa persahabatan Indonesia dengan dunia Islam tak pernah putus dan terus berkembang," katanya.

Muzani kemudian meminta izin undur diri lebih awal. Ia harus mendampingi Presiden dalam agenda kenegaraan di Istana. "Mudah-mudahan pertemuan dengan Presiden membawa kebaikan dan keberkahan," ucapnya sebelum pergi.

Tegas Lawan Islamofobia

Sementara itu, dari sudut pandang tamu internasional, Muhammad Abdul Karim Al-Issa menyampaikan apresiasi yang mendalam. Baginya, Indonesia adalah contoh nyata yang berhasil di panggung dunia.

"Indonesia adalah salah satu contoh terbaik bagi dunia Islam dalam hal hidup berdampingan, toleransi, dan moderasi," tuturnya.

Ia menegaskan komitmen Liga Muslim Dunia untuk melawan kampanye penyesatan tentang Islam, atau yang sering disebut Islamofobia. Indonesia, negeri yang berdiri di atas Pancasila ini, dinilainya sejalan dengan maqashid syariah tujuan-tujuan luhur syariat Islam. Fondasinya kuat, penuh kebijaksanaan.

Fenomena Islamofobia yang meningkat global jadi perhatiannya. Ia mengingatkan, Majelis Umum PBB sudah menetapkan Hari Internasional untuk Melawan Kebencian terhadap Islam sejak 2020. Dan dirinya pernah mendapat kehormatan menyampaikan pidato mewakili umat Muslim dunia dalam peringatan pertamanya. Perjuangan melawan kebencian ini, kata dia, harus terus digencarkan.

Al-Issa juga memaparkan sejumlah inisiatif global MWL. Ada Deklarasi Makkah Al-Mukarramah 2019, lalu dokumen hubungan antar-mazhab dalam Islam. Keduanya ditandatangani ribuan ulama dan pemikir Muslim, termasuk ulama Indonesia yang kontribusinya disebut sangat besar. Dokumen-dokumen itu bahkan sudah diadopsi oleh Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).

Teori 'benturan peradaban' ia tolak mentah-mentah. Islam justru mengajarkan penghargaan pada nilai kemanusiaan universal dan membangun jembatan antar bangsa. MWL sendiri bahkan sudah meluncurkan inisiatif membangun jembatan Timur-Barat, yang didukung langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB.

Kerja sama antaragama juga digiatkan. Konferensi global di Riyadh yang mempertemukan pemimpin berbagai agama adalah salah satu wujudnya. Tujuannya memperkuat nilai bersama sambil tetap menghormati identitas masing-masing. Belum lagi platform global layanan keagamaan Islam yang melibatkan pakar fikih dari berbagai negara, Indonesia termasuk di dalamnya.

Di akhir penyataannya, ia menyampaikan duka mendalam untuk korban bencana banjir di Indonesia.

"Dalam kesempatan ini saya juga menyampaikan belasungkawa atas korban bencana banjir. Kita semua mendoakan agar Allah mengangkat musibah ini dari Indonesia, mengampuni mereka yang wafat, serta menyembuhkan para korban yang terluka," pungkasnya.

Hadir mendampingi Al-Issa, antara lain Asisten Sekjen MWL bidang Hubungan Internasional Dr. Mohammed Al-Majdouei, Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia Faisal Abdullah H. Amodi, serta Direktur Kantor MWL di Indonesia Abdulrahman Khayyat. Dari sisi tuan rumah, Muzani didampingi Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Umum MUI KH Cholil Nafis, dan mantan Ketua Umum Muhammadiyah Prof. Dr. M. Din Syamsuddin.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar