Snap, perusahaan di balik Snapchat, baru saja mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja yang cukup besar. Sekitar seribu orang akan kehilangan pekerjaannya. Angka itu bukan main-main, karena mencakup hampir 16 persen dari total karyawan mereka di seluruh dunia.
Menurut kabar yang beredar, langkah drastis ini diambil untuk menyederhanakan operasional perusahaan. Intinya, mereka ingin lebih fokus pada proyek-proyek yang dianggap prioritas, sambil tentu saja mengencangkan ikat pinggang.
Dalam sebuah memo internal yang bocor, CEO Snap Evan Spiegel tak menampik betapa beratnya keputusan ini.
"Ini keputusan yang sangat sulit,"
ujarnya. Namun begitu, langkah tersebut dinilai perlu untuk kesehatan bisnis jangka panjang.
Dari sisi keuangan, PHK massal ini diproyeksikan bakal menghemat biaya operasional Snap hingga setengah miliar dolar AS di paruh kedua tahun 2026 nanti. Tujuannya jelas: mendorong perusahaan agar bisa kembali mencetak laba. Tapi, tentu ada konsekuensi di depan. Snap sendiri menganggarkan dana hingga 130 juta dolar AS untuk biaya pesangon dan kompensasi lainnya bagi karyawan yang terdampak.
Yang menarik, Spiegel juga menyelipkan alasan lain di balik restrukturisasi ini: kemajuan teknologi kecerdasan buatan atau AI. Dengan adanya AI, beban kerja tertentu bisa otomatis berkurang, yang pada akhirnya mempengaruhi kebutuhan akan sumber daya manusia. Sebuah transformasi yang kini mulai terasa dampaknya di banyak sektor.
Artikel Terkait
Bapanas Pantau Stabilitas Harga dan Pasokan Pangan di Banten Pasca-Lebaran
Menteri ESDM: Indonesia Kejar Pasokan Minyak Mentah dari Rusia untuk Tutupi Defisit Energi
Kemenperin Antisipasi Gangguan Rantai Pasok Petrokimia Akibat Gejolak Selat Hormuz
Kementerian Kehutanan Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di Riau Cegah Karhutla