Sepanjang Minggu kemarin, satu kabar dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ramai diperbincangkan. Intinya, ada pembebasan pajak untuk pekerja yang gajinya tak lebih dari Rp 10 juta per bulan. Berita ini jadi salah satu yang paling banyak dibaca di kumparanBisnis.
Di sisi lain, perhatian publik juga tertuju pada pernyataan Presiden AS Donald Trump. Dia menyebutkan rencananya untuk mengerahkan perusahaan-perusahaan Amerika guna membenahi industri minyak Venezuela yang sudah lama terpuruk. Dua topik ini memang menyita perhatian.
Purbaya Bebaskan Pajak Pegawai dengan Gaji hingga Rp 10 Juta, Ini Kriterianya
Kebijakan itu resmi keluar. Purbaya membebaskan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21 bagi pekerja dengan penghasilan maksimal Rp 10 juta per bulan. Aturan ini baru akan berlaku penuh pada tahun 2026, sebagai bagian dari upaya pemerintah menopang daya beli di tengah tekanan ekonomi yang masih ada.
Semua ketentuan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 105 Tahun 2025. Insentifnya akan berjalan sepanjang tahun 2026, dari Januari hingga Desember.
Dalam pertimbangan aturan yang dikutip Minggu (4/1), Purbaya menulis, "Untuk menjaga keberlangsungan daya beli masyarakat dan menjalankan fungsi stabilisasi ekonomi dan sosial pada 2026, telah ditetapkan paket stimulus ekonomi sebagai upaya pemerintah dalam menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat antara lain dengan pemberian fasilitas fiskal."
Nah, siapa saja yang dapat? Targetnya adalah pekerja di lima sektor spesifik: industri alas kaki; tekstil dan pakaian jadi; furnitur; kulit dan barang dari kulit; serta pariwisata. Fasilitas ini bisa dinikmati baik oleh pegawai tetap tertentu maupun yang tidak tetap.
Trump Mau Kerahkan Perusahaan AS untuk Perbaiki Industri Minyak Venezuela
Setelah serangan dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, Donald Trump menyampaikan rencana ambisiusnya. AS, katanya, akan memperbaiki industri minyak Venezuela yang sudah lama amburadul. Caranya? Dengan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar dari Amerika.
Menurut laporan BBC, Minggu (4/1), Trump menyebut industri minyak negeri itu telah mengalami "kegagalan total".
“Kami akan mengerahkan perusahaan-perusahaan minyak besar Amerika Serikat, yang terbesar di dunia, masuk ke sana, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara itu,” ujar Trump dalam konferensi pers.
Rencana ini punya dasar yang kuat. Data dari US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan Venezuela punya cadangan minyak mentah sekitar 303 miliar barel. Jumlah itu setara dengan 20 persen dari sumber daya minyak dunia. Potensi besarnya tak main-main.
Trump mengklaim sudah menyiapkan 'sekelompok orang' untuk mengelola proyek perbaikan ini. Namun begitu, ia tak mau merinci lebih jauh soal siapa dan bagaimana kelompok itu akan bekerja. Rencananya masih terasa samar, meski gaungnya sudah menggema.
Artikel Terkait
Indonesia-AS Sepakati 1.819 Produk Bebas Tarif, Dinamika Berubah Pasca Putusan MA AS
Astra Agro Lestari (AALI) Catat Laba Bersih Rp1,47 Triliun di 2025, Tumbuh 28%
Trump Naikkan Tarif Global AS Jadi 15% Usai Putusan MA
Kadin Desak Prabowo Batalkan Rencana Impor 105.000 Mobil Pick-up dari India