Mahathir juga menyoroti ketebalan dokumen yang mencapai 400 halaman. Masalahnya, dokumen itu disebutnya tak pernah diungkap ke publik. "Banyak klausulnya menyatakan kekuasaan negara kita diserahkan ke Amerika Serikat," ujarnya, seperti dilansir The Straits Times. Ia khawatir Malaysia jadi harus merujuk setiap tindakan kepada AS, yang kemudian bisa menentukan apa yang boleh dan tidak.
Di sisi lain, isu sensitif tentang status bumiputera ikut menjadi sorotan. Dalam perjanjian itu, klausul khusus untuk hak istimewa pribumi dan Melayu itu konon tak disebut secara gamblang.
"Implikasinya jelas," tutur Mahathir. Semua hak istimewa bumiputera tak bisa diberlakukan pada barang atau perdagangan AS. Kekuasaan AS, dalam hal ini, mengesampingkannya. Dan manfaat apapun untuk bumiputera, harus diberikan juga kepada Amerika.
Laporan ini tentu memanaskan lagi suhu politik Malaysia yang tak pernah benar-benar reda. Anwar sendiri belum memberikan tanggapan langsung. Namun, langkah Mahathir ini jelas sebuah tantangan terbuka, sebuah babak baru dalam perseteruan panjang dua tokoh yang dulu pernah bersatu.
Artikel Terkait
Harga Pangan Stabil Jelang Lebaran 2026, Distribusi Lancar Jadi Kunci
KPAI Apresiasi Aturan Pembatasan Media Sosial untuk Anak di Bawah 16 Tahun
Polres Bogor Wakafkan 2.000 Al-Quran di Acara Nuzulul Quran
Intelijen AS: Rusia Diduga Bocorkan Informasi Rahasia ke Iran untuk Targetkan Aset Militer AS