Pencapaian itu, dalam pandangannya, bisa selaras dengan komitmen Presiden Prabowo untuk mempercepat transisi energi. Target dekarbonisasi Indonesia di tahun 2060, atau bahkan lebih cepat, membutuhkan sekutu dan teknologi. Di sinilah ruang kerja sama terbuka lebar.
“Sebagai negara yang sama-sama sedang berupaya beralih ke energi bersih, Indonesia dan China bisa bekerjasama dalam berbagai ruang kebijakan,” ungkap Eddy. Ia menyebut investasi untuk pengembangan energi terbarukan di Indonesia yang butuh pembiayaan besar, sekaligus potensi menciptakan lapangan kerja hijau atau green jobs yang luas.
Di sisi lain, kerja sama ekonomi secara keseluruhan juga jadi perhatian. Eddy meyakini pertemuan dengan Prabowo akan memperkuat hal itu. Apalagi, kedua negara kini sama-sama tergabung dalam BRICS.
“Peluang kerjasama ekonomi dengan China maupun di BRICS harus diambil Indonesia,” tegasnya. Menurut Eddy, ini adalah terobosan penting untuk memperluas pasar ekspor dan mendiversifikasi komoditas dagang. Strategi ini bisa mengurangi ketergantungan pada satu dua negara saja sekaligus membuka peluang ekonomi baru di negara-negara ekonomi berkembang.
Dalam kunjungan kali ini, Wang Huning tidak sendirian. Ia turut didampingi oleh sejumlah pejabat, termasuk Dubes RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangoen, dan Dubes Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong. Kehadiran mereka menunjukkan betapa kunjungan ini dipersiapkan dengan serius, menandai babak baru dalam diplomasi kedua negara.
Artikel Terkait
Genangan 50 Cm Masih Menghantui Sejumlah Jalan di Jakarta Utara
Hujan Semalam, 48 RT di Jakarta Terendam Banjir
Kapolsek Turun Langsung Bagikan Sembako ke Warga Terendam di Kelapa Gading
Kediaman Kosong di Bogor, Menanti Kabar dari Gunung Bulusaurung