Kondisi di pengungsian Masjid Jamik Al Istiqamah di Ulee Tutue, Bireuen, Aceh, mulai mengkhawatirkan. Banyak pengungsi, terutama anak-anak dan orang tua, dilaporkan mulai jatuh sakit. Kabar ini datang seiring dengan meningkatnya tekanan akibat banjir yang melanda wilayah Sumatera.
Menanggapi situasi ini, Kementerian Kesehatan bergerak cepat. Mereka tak hanya menambah tim medis di lapangan, tapi juga membanjiri lokasi bencana dengan logistik kesehatan yang sangat dibutuhkan.
Agus Jamaludin, sang Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes, menjelaskan langkah-langkah yang diambil. Fokus utamanya adalah layanan dasar dan penanganan penyakit infeksi.
Koordinasi dengan dinas kesehatan daerah pun terus digenjot. Tujuannya jelas: memastikan semua kebutuhan warga terpenuhi. Seluruh puskesmas dan rumah sakit disiagakan penuh. Layanan mobile dan pos kesehatan di tenda-tenda pengungsian juga diperkuat.
Lalu, bantuan apa saja yang sudah dikirim? Rinciannya cukup banyak. Per 1 Desember, Kemenkes mendistribusikan 103 unit oxygen concentrator, ribuan dus makanan tambahan untuk balita dan ibu hamil, serta beragam obat-obatan dan bahan medis.
Tak cuma itu. Logistik pendukung seperti masker bedah, sarung tangan, APD, hingga alat uji kualitas air juga disiapkan. Bahkan, hal-hal yang kerap terlupakan seperti kantong jenazah dan sampah medis turut diperhitungkan.
Artikel Terkait
Imigrasi Bocorkan Biaya Paspor Baru hingga Denda Kalau Hilang
Rahasia di Balik Angka NIK dan Cara Dapatkan KTP Sebelum 17 Tahun
Dapur Ambruk Usai Tanah Bergerak di Bogor, Satu Keluarga Terdampak
Subuh di Rumpin Berakhir dengan Penggerebekan Sarang Pengoplosan Gas