Habib Rizieq Serukan Revolusi Akhlak di Reuni 212, Soroti Ancaman Mafia hingga Presiden

- Rabu, 03 Desember 2025 | 01:20 WIB
Habib Rizieq Serukan Revolusi Akhlak di Reuni 212, Soroti Ancaman Mafia hingga Presiden

Suasana di Monas, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2025) itu cukup padat. Dari atas panggung, Habib Rizieq Shihab menyampaikan pidato berapi-api di hadapan massa Reuni 212. Inti pesannya satu: Indonesia darurat akhlak, dan sudah waktunya untuk sebuah "revolusi".

"Tema Reuni 212 tahun ini adalah revolusi akhlak," serunya.

"Ayo kita selamatkan NKRI dari penjahat dan terus berjuang memerdekakan Palestina dari penjajah."

Bagi Rizieq, kondisi darurat itu nyata dan bisa dilihat di mana-mana. Dia menyoroti maraknya korupsi dan praktik mafia yang, menurut pengamatannya, didukung oleh segelintir kelompok yang punya kuasa. Kekuatan politik dan ekonomi mereka, katanya, bahkan didukung sebagian aparat.

"Kenapa kita harus melakukan revolusi akhlak? Karena di negeri kita sedang terjadi darurat akhlak," tegasnya.

"Lihat saudara, maraknya aneka ragam kemuntahan, kemaksiatan di negeri kita. Maraknya para penjahat yang menggarap kekayaan negeri kita, maraknya korupsi, banyaknya mafia, merajalelanya oligarki-oligarki busuk."

Dia lalu memberikan gambaran yang lebih menohok. Menurutnya, ancaman itu sedemikian kuatnya hingga posisi tertinggi sekalipun tak luput. "Jangankan kita rakyat biasa, saudara. Para koruptor, para mafia, para oligarki di kita punya negeri, Presiden dia berani ancam, kok. Presiden dia berani ancam, Presiden dia mau lawan, saudara."

Lalu dia berkesimpulan, "Kalau presiden aja diancam apalagi kita semua."

Maka, seruannya adalah bersatu. Di hadapan ribuan pendukungnya, Rizieq menegaskan bahwa lawan mereka bukanlah entitas yang diam. Lawan mereka hidup, bergerak, dan punya pengaruh besar.

"Maka itu sudah berulang kali saya ingatkan, saudara," katanya.

"Yang kita lawan ini bukan sembarang kelompok. Bukan tembok yang tidak bergerak, bukan tiang yang tidak bisa bicara. Yang kita lawan ini ada kelompok mafia, kelompok oligarki busuk, kelompok koruptor, kelompok penjahat yang punya kekuatan politik, kekuatan ekonomi."

Ajakan untuk melawan dan bersatu melawan praktik korupsi pun digaungkan, menutup orasinya yang berdurasi cukup panjang di bawah langit Jakarta siang itu.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar