"Kami punya datanya. Banyak rumah yang persis melanggar batas sempadan sungai," ungkap Raditya.
Padahal, fungsi sempadan sungai itu jelas: sebagai pelindung dari erosi, banjir, sekaligus penjaga ekosistem. Ketika kawasan itu beralih fungsi jadi permukiman, ya risiko bencana otomatis meningkat. Itu fakta yang tak terbantahkan.
Raditya kemudian menyampaikan sebuah analogi yang cukup tajam. Menurutnya, fenomena alam baru akan disebut sebagai bencana jika menimbulkan korban dan kerusakan.
"Gunung meletus tapi tidak ada korban jiwa, itu namanya fenomena alam biasa. Tugas kita, terutama bapak-ibu di daerah, adalah memastikan bahwa setiap fenomena alam tidak berubah jadi bencana yang merugikan. Itu intinya," terangnya.
Poinnya sederhana: persiapan dan pencegahan di level daerah adalah kunci. Tanpa itu, menyalahkan hujan hanya akan jadi pengulangan cerita yang usang.
Artikel Terkait
MUI dan PGI Desak Pemerintah Keluar dari Board of Peace Usai Serangan AS-Israel ke Iran
44.500 Penerima Bantuan Kesehatan Nasional Kembali Aktif Usai Pemutakhiran Data
Pelatih Persib Pilih Bungkam Soal Wasit Usai Imbang Lawan Persebaya
BMKG Waspadakan Bibit Siklon Tropis 90S, Picu Hujan Lebat hingga 8 Maret