"Kami punya datanya. Banyak rumah yang persis melanggar batas sempadan sungai," ungkap Raditya.
Padahal, fungsi sempadan sungai itu jelas: sebagai pelindung dari erosi, banjir, sekaligus penjaga ekosistem. Ketika kawasan itu beralih fungsi jadi permukiman, ya risiko bencana otomatis meningkat. Itu fakta yang tak terbantahkan.
Raditya kemudian menyampaikan sebuah analogi yang cukup tajam. Menurutnya, fenomena alam baru akan disebut sebagai bencana jika menimbulkan korban dan kerusakan.
"Gunung meletus tapi tidak ada korban jiwa, itu namanya fenomena alam biasa. Tugas kita, terutama bapak-ibu di daerah, adalah memastikan bahwa setiap fenomena alam tidak berubah jadi bencana yang merugikan. Itu intinya," terangnya.
Poinnya sederhana: persiapan dan pencegahan di level daerah adalah kunci. Tanpa itu, menyalahkan hujan hanya akan jadi pengulangan cerita yang usang.
Artikel Terkait
Machado Serahkan Nobel Perdamaiannya ke Trump, Meski Tak Bisa Dialihkan
Fortuner Ringsek Jadi Penahan, Nyawa Pengendara Motor Selamat dari Truk yang Meluncur Mundur
Sekolah Rakyat: Dari Lorong Asrama Subuh Menuju Pemutus Rantai Kemiskinan
Setelah Pensiun, Mantan Sekjen Kemnaker Diduga Terima Aliran Rp 12 Miliar