Evakuasi korban banjir dan longsor di Sumatera ternyata menyimpan tantangan berat. Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, sang Kepala Basarnas, mengakuinya dengan terus terang. Inti persoalannya? Kekurangan sarana dan prasarana yang cukup parah.
Hal itu ia sampaikan dalam rapat kerja bersama Komisi V DPR di Senayan, Jakarta, awal Desember lalu.
"Kalau ditanya apakah sarana-prasarana Basarnas sudah cukup? Jujur saja, masih sangat kurang," ujar Syafii.
Ia lalu menjelaskan harapan dari komisi agar Basarnas bisa hadir di setiap kabupaten. Sayangnya, realitas di lapangan jauh dari harapan itu. Ambil contoh di Sumatera Barat. Coba bayangkan, satu kantor Basarnas di sana harus menangani wilayah yang luas sekali, mencakup 18 kabupaten dan kota. Jumlah personelnya? Sangat terbatas.
"Ya, dengan personel yang ada juga sangat terbatas," katanya menegaskan.
Di sisi lain, Syafii mengakui bahwa kerja-kerja Basarnas selama ini kerap dibantu oleh banyak pihak. Namun begitu, ia punya harapan lain. Menurutnya, peran warga sekitar yang tidak terdampak bencana sangat krusial.
"Harapan kami, saat darurat terjadi di mana pun, warga yang lokasinya dekat dan kondisinya aman bisa melakukan tindakan awal," paparnya.
Bantuan segera dari masyarakat itu dinilainya penting, sambil menunggu kedatangan tim khusus seperti Basarnas yang memang punya kewenangan penanganan operasi SAR. Intinya, kolaborasi antara warga dan institusi resmi menjadi kunci dalam situasi darurat seperti ini.
Artikel Terkait
Tokoh Muda NU: Kapolri Letakkan Fondasi Kuat, tapi Reformasi Polri Masih Jalan Panjang
Mantan Atasan Jadi Kunci Penyerahan Diri Taufik Hidayat, Pelaku Penyekapan Sadis di Bandung
Kadin Dorong Sekolah Vokasi di Kawasan Industri agar Lulusan Langsung Terserap Pasar Kerja
Inggris Catat Rekor Suhu 35,8 Derajat Celcius, Peringatan Panas Ekstrem Dikeluarkan