Sebuah unggahan di media sosial sempat ramai, menunjukkan seorang wanita paruh baya menjadi korban dugaan pembunuhan di Cisarua, Bogor. Yang mengejutkan, pelakunya adalah seorang perempuan lain. Kapolres Bogor AKBP Wikha Ardilestanto pun membenarkan kejadian tragis ini.
Berkat gerak cepat tim Pamapta Polres Bogor di TKP, pelaku berhasil diamankan tak lama setelah kejadian.
Korban, seorang wanita berinisial N (59), tewas dalam kondisi yang sungguh memilukan. Menurut Kasat Reskrim Polres Bogor AKP Anggi Eko Prasetyo, semuanya berawal saat korban sedang menunaikan salat Magrib.
"Pada magrib korban salat magrib, lalu secara tiba-tiba tersangka mengambil balok kayu yang berada di dapur dan menghampiri korban dan memukul saat korban sedang sujud pada bagian kepala," ujar Anggi, pada Sabtu (22/11/2025).
Serangan itu begitu kejam dan mendadak. Korban pun terjatuh terlentang. Tapi pelaku, NAF (32), belum berhenti. Dia kembali menghantam kepala korban dengan balok kayu itu dua kali lagi.
Yang bikin geram, setelah aksi brutal itu, pelaku malah sempat berbincang dengan korbannya. Bahkan, dia meminjam uang sebesar Rp 1 juta.
"Setelah itu pelaku dan korban sempat berbincang dan dalam perbincangan itu pelaku meminjam uang Rp 1 juta ke korban," bebernya.
Korban yang mungkin masih dalam keadaan shock, malah memberikan gelang dan cincin miliknya. Pelaku lalu membersihkan darah yang sudah mengotori tubuh korban. Dia mengajak N untuk pergi ke rumah sakit, tapi ditolak.
"Kemudian pelaku sempat minta maaf dan mengajak korban ke rumah sakit. Korban tidak mau," lanjut Anggi.
Namun begitu, situasi tiba-tiba memanas lagi. Mereka kembali cekcok. Perhiasan yang tadi diberikan, sempat dikembalikan pelaku. Korban yang mungkin merasa kesal, lalu menjambak si pelaku.
Pelaku tak terima. Dia melawan, mendorong korban, lalu menutup wajah N dengan bantal hingga korban kehabisan napas. Bahkan, dada korban pun didudukinya. NAF masih belum puas. Dia mengambil pisau dari kamar korban dan menikamnya sekali di dada.
Melihat korbannya masih bergerak, dia kembali menusuknya. Delapan kali. Tanpa ampun.
Usai melakukan pembunuhan sadis itu, NAF kabur. Dia membawa serta handphone dan perhiasan milik korban, lalu pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri.
Keesokan harinya, dengan sikap yang tenang, pelaku menghubungi anak korban. Dia tahu anak itu akan berkunjung. Dalam percakapan itu, NAF mencoba mengelabui keluarga.
"Pelaku mencoba mengelabui keluarga dari korban dengan menyatakan korban tidak bisa dihubungi karena sedang pengajian," sebut Anggi. Dia seolah ingin memastikan apakah keluarga sudah datang ke rumah korban atau belum.
Motif di balik semua kekejaman ini ternyata hal yang sepele: persoalan tabungan. Sebuah nyawa melayang hanya karena urusan duniawi yang seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin.
Artikel Terkait
Remaja 13 Tahun di Cimahi Alami Lengan Tertancap Pagar Besi saat Kejar Layangan
Polisi Kenya Tembak Demonstran Tolak Pusat Karantina Ebola AS di Nanyuki, Satu Tewas
Polri Salurkan 550 Paket Bansos ke Pengemudi Ojol dalam Rangka HUT Bhayangkara ke-80
Menteri Lingkungan Hidup Canangkan Target Bali 100 Persen Pemilahan Sampah