Suara Perempuan Pedalaman & Koperasi Rakyat: Realita yang Terlupakan vs Jargon Elit

- Kamis, 13 November 2025 | 06:50 WIB
Suara Perempuan Pedalaman & Koperasi Rakyat: Realita yang Terlupakan vs Jargon Elit
Suara Perempuan Pedalaman dan Koperasi Rakyat yang Terlupakan

Kaca Mata Elit dan Mata Air Rakyat

Oleh: Makdang Edi (Suryadi Z)

Di Indonesia, istilah "perempuan pedalaman" seringkali hanya menjadi bahan pembicaraan di forum-forum elit. Ruangan biasanya hening sejenak, lalu bergema dengan tepuk tangan dan jargon-jargon seperti pemberdayaan perempuan, kebijakan inklusif, hingga digitalisasi desa. Namun, di balik kata-kata indah tersebut, seringkali yang berbicara adalah mereka yang belum pernah merasakan hidup sebenarnya di pedalaman.

Realitas Perempuan Pedalaman: Bukan Sekadar Objek Program

Mari kita tinggalkan sejenak ruang seminar dan menyelami kehidupan nyata perempuan pedalaman. Sebelum fajar menyingsing, ia sudah menyalakan tungku, menyiapkan air, dan berjalan jauh untuk mengambil kayu bakar. Di sela kesibukannya, ia masih menyempatkan waktu mengajari anaknya membaca dengan buku bekas, tanpa mengenal istilah kurikulum merdeka.

Ia mungkin tidak paham teori gender mainstreaming, namun ia mengerti makna kesetaraan saat harus menggantikan suaminya mencangkul di ladang. Ia tidak mengenal literasi keuangan digital, namun ia pandai menabung di celengan bambu untuk masa depan anaknya. Baginya, pendidikan bukan sekadar ijazah, melainkan jalan untuk bertahan hidup dengan penuh martabat.

Kesenjangan Kebijakan dan Realitas di Lapangan

Sayangnya, banyak program pemerintah yang dirancang di gedung perkotaan tanpa menyentuh inti permasalahan di lapangan. Banyak lembaga datang dengan proposal dan kamera, bukan dengan ketulusan hati untuk mendengarkan. Mereka memberikan pelatihan, namun jarang kembali untuk mengevaluasi hasilnya. Kesuksesan hanya dicatat dalam laporan, sementara perempuan pedalaman kembali ke rutinitasnya dengan pertanyaan besar: apa yang sebenarnya berubah?

Koperasi Rakyat: Dari Semangat Gotong Royong Menjadi Birokrasi

Koperasi seharusnya lahir dari semangat kebersamaan dan tolong-menolong. Namun dalam praktiknya, koperasi modern seringkali berubah menjadi birokrasi baru yang mengulangi pola kapitalisme. Koperasi dibentuk atas nama rakyat, namun jarang yang benar-benar dikelola oleh dan untuk rakyat.

Para pengurus berbicara tentang saham anggota, sementara anggota sendiri tidak memahami nilainya. Rapat tahunan berubah menjadi formalitas belaka, bukan musyawarah murni. Banyak koperasi gagal bukan karena kurang modal, tetapi karena hilangnya kepercayaan di antara anggotanya.

Esensi Koperasi Sejati yang Masih Hidup di Pedesaan

Di balik kompleksitas sistem modern, masih ada bentuk koperasi sejati yang bertahan di pedesaan. Sekelompok ibu-ibu yang menabung beras dalam kaleng untuk persediaan musim sulit, atau petani yang saling berbagi pupuk dan menghitung hasil panen dengan penuh kejujuran. Mereka mungkin tidak memiliki akta notaris, namun memiliki ikatan moral yang lebih kuat dari dokumen resmi apapun.

Solusi yang Dibutuhkan: Dari Bawah ke Atas

Rakyat tidak membutuhkan belas kasihan, melainkan pengakuan dan kesempatan. Pendidikan untuk perempuan pedalaman dan pengembangan koperasi rakyat hanya akan berhasil jika kebijakan dibuat berdasarkan kebutuhan riil dari bawah, bukan dari asumsi di atas.

Kita membutuhkan pemimpin yang mau duduk di tikar bambu, mendengarkan keluh kesah masyarakat, dan berani mengakui ketidaktahuannya tentang kehidupan di pedalaman. Suara masyarakat akar rumput seringkali dianggap remeh, padahal merekalah yang paling memahami kondisi sebenarnya.

Penutup: Belajar dari Kearifan Lokal

Perubahan sosial yang berarti hanya mungkin terjadi ketika para elit mau belajar dengan rendah hati. Belajar dari rakyat bukanlah tindakan yang merendahkan, melainkan langkah untuk mengangkat martabat kebijakan itu sendiri. Rakyatlah yang paling memahami di mana letak permasalahan bangsa ini, dan merekalah yang memiliki solusi terbaik untuk menyembuhkannya.

Pendidikan perempuan pedalaman tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori, tetapi membutuhkan pendekatan yang memahami realitas kehidupan mereka. Koperasi rakyat tidak akan berkembang melalui seminar, tetapi melalui niat tulus untuk berbagi dan membangun bersama.

Mungkin sudah waktunya bagi para pengambil keputusan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Karena dalam suara lembut perempuan pedalaman yang menenun sambil mendendangkan syair, tersimpan kearifan yang lebih bernilai daripada ribuan halaman penelitian.

Penulis: Penggiat Pendidikan, Pemerhati Sosial dan Lingkungan Hidup.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar