Membaca Tanpa Menalar: Ketika Literasi Hanya Berhenti di Huruf

- Minggu, 28 Desember 2025 | 23:06 WIB
Membaca Tanpa Menalar: Ketika Literasi Hanya Berhenti di Huruf

Kita hidup di zaman di mana membaca sudah jadi hal biasa. Hampir semua orang bisa melakukannya. Lewat gawai di genggaman, informasi apa pun tersaji dalam hitungan detik ribuan artikel, unggahan media sosial, opini yang berseliweran. Tapi, ada pertanyaan yang menggelitik di balik kemudahan itu. Benarkah sekadar bisa membaca lantas membuat kita paham? Bijak menyikapi apa yang kita baca?

Jawabannya, seringkali tidak. Menurut saya, literasi sejatinya jauh lebih dalam dari sekadar mengenal huruf. Ia adalah soal bagaimana kita menyikapi informasi yang datang. Literasi yang sesungguhnya menuntut kita untuk menafsir, menganalisis, bahkan meragukan. Lalu, menarik kesimpulan dengan kepala dingin.

Nyatanya, ini masih jadi tantangan besar. Lihat saja betapa mudahnya hoaks dan informasi menyesatkan menyebar. Banyak orang membaca, ya. Tapi berapa banyak yang kemudian memeriksa ulang kebenarannya? Seringkali informasi langsung ditelan mentah-mentah, dibagikan lagi, dan diyakini begitu saja. Refleksi? Itu barang langka.

Nah, berpikir kritis dalam hal ini berarti kita tak boleh gampang percaya pada satu sumber. Coba bandingkan dengan sumber lain. Tanyakan: siapa yang bicara, apa maksudnya, datanya dari mana? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru kunci utamanya.

Di sisi lain, dunia pendidikan punya peran sentral. Peserta didik tak bisa cuma disuruh menghafal. Mereka perlu dilatih berargumen, berdiskusi, dan memecahkan masalah dengan logika. Tujuannya jelas: melahirkan individu yang tak hanya pintar secara akademis, tapi juga punya kebijaksanaan.

“Proses belajarnya harus melampaui teks,” begitu prinsipnya.

Artinya, yang penting adalah makna di balik deretan kata itu. Diskusi yang hidup, analisis kasus, atau belajar lewat masalah nyata bisa jadi cara ampuh untuk menumbuhkan nalar kritis sejak dini. Dengan begitu, membaca bukan lagi aktivitas pasif, melainkan sebuah petualangan pikiran.

Di luar sekolah, literasi macam ini juga vital. Masyarakat yang kritis biasanya tak gampang terprovokasi. Mereka lebih terbuka, lebih matang dalam mengambil keputusan. Lama-kelamaan, kebiasaan ini bisa membentuk budaya berpikir yang sehat fondasi penting untuk kehidupan demokratis.

Pada akhirnya, literasi bukan cuma soal membaca kata-kata. Ia adalah tentang memahami realitas lewat pikiran yang tajam. Di tengah banjir informasi seperti sekarang, kemampuan inilah yang menjadi tameng. Agar kita tidak sekadar jadi konsumen yang menelan semua, tapi individu yang sadar, yang merenung, dan bertanggung jawab. Sebab, membaca tanpa berpikir mungkin membuat kita tahu banyak hal. Tapi memahami maknanya? Itu cerita lain.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar