Kita hidup di zaman di mana membaca sudah jadi hal biasa. Hampir semua orang bisa melakukannya. Lewat gawai di genggaman, informasi apa pun tersaji dalam hitungan detik ribuan artikel, unggahan media sosial, opini yang berseliweran. Tapi, ada pertanyaan yang menggelitik di balik kemudahan itu. Benarkah sekadar bisa membaca lantas membuat kita paham? Bijak menyikapi apa yang kita baca?
Jawabannya, seringkali tidak. Menurut saya, literasi sejatinya jauh lebih dalam dari sekadar mengenal huruf. Ia adalah soal bagaimana kita menyikapi informasi yang datang. Literasi yang sesungguhnya menuntut kita untuk menafsir, menganalisis, bahkan meragukan. Lalu, menarik kesimpulan dengan kepala dingin.
Nyatanya, ini masih jadi tantangan besar. Lihat saja betapa mudahnya hoaks dan informasi menyesatkan menyebar. Banyak orang membaca, ya. Tapi berapa banyak yang kemudian memeriksa ulang kebenarannya? Seringkali informasi langsung ditelan mentah-mentah, dibagikan lagi, dan diyakini begitu saja. Refleksi? Itu barang langka.
Nah, berpikir kritis dalam hal ini berarti kita tak boleh gampang percaya pada satu sumber. Coba bandingkan dengan sumber lain. Tanyakan: siapa yang bicara, apa maksudnya, datanya dari mana? Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu justru kunci utamanya.
Di sisi lain, dunia pendidikan punya peran sentral. Peserta didik tak bisa cuma disuruh menghafal. Mereka perlu dilatih berargumen, berdiskusi, dan memecahkan masalah dengan logika. Tujuannya jelas: melahirkan individu yang tak hanya pintar secara akademis, tapi juga punya kebijaksanaan.
Artikel Terkait
Kepatuhan LHKPN DPR Terendah, Hanya 55,14% yang Lapor
Gubernur Malut Kunjungi Makassar untuk Pelajari Strategi Peningkatan PAD dan Pengendalian Inflasi
Ramadhan Sananta Dihujat Rasis Usai Laga, Gelombang Kecaman Bergulir
Anggota DPR Nilai PP TUNAS Bentuk Perlindungan Jangka Panjang bagi Anak