Cek Fakta: Video Simulasi Pandemi 2017 Ternyata Rekaman Profil Rumah Sakit Israel

- Kamis, 12 Februari 2026 | 13:05 WIB
Cek Fakta: Video Simulasi Pandemi 2017 Ternyata Rekaman Profil Rumah Sakit Israel

Sebuah video di TikTok tiba-tiba ramai. Isinya klaim mengejutkan: katanya, ini rekaman simulasi pandemi dari tahun 2017, dan ada kaitannya dengan berkas Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman AS. Dalam cuplikan itu, terlihat petugas rumah sakit berbalut pakaian hazmat lengkap, direkam dengan kamera yang terlihat profesional.

Unggahan tanggal 7 Februari 2026 itu langsung meledak. Ditonton hampir satu juta kali, dibagikan ribuan, dan dapat puluhan ribu likes. Kolom komentar pun penuh dengan spekulasi. Banyak yang langsung percaya dan bilang ini "bukti" pandemi direncanakan. Tapi tak sedikit juga yang meragukan, bertanya-tanya soal keaslian dan konteksnya.

Nah, tim cek fakta DW Indonesia kemudian menelusuri klaim ini. Hasilnya? Klaim soal video simulasi pandemi 2017 itu salah.

Video Lama yang Kembali Dihidupkan

Pertama-tama, analisis dengan alat pendeteksi AI dari Hive Moderation menunjukkan video itu asli bukan manipulasi atau buatan AI dengan probabilitas sekitar 70%. Jadi, rekamannya nyata. Tapi konteksnya yang melenceng.

Setelah ditelusuri pakai Google Reverse Image, rupanya video ini sudah beredar sejak 2021 di berbagai platform dan diulas media internasional. Intinya, video ini dibuat di Shamir Medical Center, sebuah rumah sakit di Israel. Kalau mau bukti, cek saja kanal YouTube rumah sakit tersebut. Mereka mengunggah video profil yang persis sama pada 26 Maret 2021.

Kesamaannya jelas banget. Ruangan dan warna dindingnya sama, nomor tanda ranjangnya mirip, bahkan tulisan di hazmat-nya identik. Adegan mendorong ranjang juga persis. Dari sini sudah ketahuan: ini bukan rekaman simulasi pandemi rahasia, melainkan proses pembuatan video profil rumah sakit yang biasa saja.

Memadukan Dua Video Jadi Satu

Yang lebih menarik, video viral di TikTok durasi 45 detik itu ternyata gabungan dua klip berbeda. Kalau dilacak, ada versi lengkapnya di YouTube dari 5 Maret 2021, durasinya lebih panjang, 1 menit 2 detik. Di bagian kedua, transisinya kentara, dan adegannya berubah total: petugas hazmat malah menari-nari.

Potongan video tarian ini sendiri ternyata punya cerita lain. Sudah diunggah Hamal News pada Juli 2020 dengan konteks perayaan pernikahan. Saat itu, video petugas hazmat menari memang jadi kontroversi di Israel, tapi sama sekali nggak ada hubungannya dengan latihan pandemi.

Lalu, bagaimana dengan kaitan ke berkas Epstein? Memang, jika kamu mencari "pandemic simulation" di dokumen Epstein yang dirilis, ada empat hasil. Tapi isinya cuma riwayat percakapan email atau chat biasa. Tidak ada pembahasan spesifik tentang simulasi pandemi di dalamnya. Jadi, pengaitannya benar-benar dipaksakan.

Kenapa Hoax Seperti Ini Cepat Menyebar?

Menurut psikolog Virginia Hanny yang diwawancarai DW Indonesia, otak manusia pada dasarnya tidak nyaman dengan hal yang tidak pasti. Jadi, kita sering secara tidak sadar menghubung-hubungkan dua peristiwa agar semuanya terasa lebih masuk akal. Ini yang disebut confirmation bias.

"Ketika ada dua peristiwa besar yang mungkin berdekatan tapi sebenarnya enggak ada hubungannya, orang akan cenderung mencari hubungan di antaranya supaya situasinya terasa lebih masuk akal."

Ia menambahkan, hoax biasanya membawa muatan emosi kuat seperti ketakutan, kemarahan, atau kecurigaan. Nah, informasi yang memicu emosi seperti itu cenderung menyebar lebih cepat ketimbang informasi yang datar dan netral.

"Informasi yang memancing emosi yang kuat tuh cenderung lebih cepat nyebar daripada informasi yang netral."

Untuk melawan bias ini, Hanny mengingatkan agar kita selalu kritis. Jangan langsung telan mentah-mentah informasi yang diterima.

"Teknologi sudah sangat berkembang. Sangat mudah untuk menciptakan hoaks yang belum tentu (benar). Jadi, selalu cek fakta dan kebenarannya (...) dan juga membangun batasan-batasan dengan konten-konten yang kita konsumsi agar kita enggak lelah secara emosional."

Intinya, klaim video simulasi pandemi 2017 itu sudah terbantahkan. Videonya asli, tapi konteksnya dipelintir dan digabung dengan materi lain untuk menciptakan narasi yang sensasional. Di era informasi serba cepat seperti sekarang, selalu ada baiknya untuk berhenti sejenak dan mengecek ulang sebelum percaya atau sebelum ikut menyebarkannya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar