"Respon masyarakat sangat terbuka dan menerima dengan baik. Bahkan seminggu sebelum saya tiba, mereka sudah bertanya kepada salah satu mahasiswa STID M. Natsir apakah saya jadi datang ke dusun mereka," terang dai muda asal Aceh ini.
Dakwah Tetap Menyala dari Musala Kecil
Tidak mudah membentuk rutinitas masyarakat pedalaman untuk mengikuti kajian agama secara teratur, mengingat kehidupan mereka sangat bergantung pada hasil hutan.
Dari pagi hari pukul 07.00 hingga petang, warga desa masuk ke dalam hutan untuk mencari damar. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun ikut serta dalam aktivitas ini. Namun demikian, tidak setiap hari mereka berhasil mendapatkan hasil.
"Terkadang masyarakat tidak bisa membeli beras karena tidak mendapat hasil dari hutan," ungkap Ustaz Awi.
Karena itu, Ustaz Awi beberapa kali ikut menyusuri hutan belantara, selain memusatkan dakwahnya di musala kecil Nurul Huda dan berdakwah dari rumah ke rumah.
Mengajar Anak-anak Pedalaman
Mengajar anak-anak Suku Talang Mamak menjadi fokus utama dakwah Ustaz Awi. Dari pagi hingga siang hari, ia mengajar anak-anak SD di dusun tersebut.
Sebuah sekolah rintisan berbentuk kelas filial telah berdiri di Dusun Nunusan. Di sinilah anak-anak Suku Talang Mamak mengenal pendidikan formal. Namun, banyak dari mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan atau harus berhenti di tengah jalan karena keterbatasan biaya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, anak-anak tersebut menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Setiap hari mereka berjalan kaki menuju sekolah, beberapa di antaranya menempuh jarak lebih dari satu jam tanpa menggunakan sepatu atau alas kaki.
Anak-anak ini tidak hanya belajar di sekolah, tetapi juga harus membantu keluarga dengan masuk hutan sepulang sekolah untuk mencari damar.
Belajar Mengaji di Bawah Penerangan Sederhana
Meski kelelahan setelah seharian beraktivitas, anak-anak pedalaman ini tetap bersemangat mengikuti pengajian selepas Magrib bersama Ustaz Awi.
Dengan penerangan dari lampu LED atau lampu darurat portabel, mereka dengan tekun mengeja huruf demi huruf di papan tulis kapur.
Dusun yang sebelumnya sunyi senyap perlahan mulai hidup sejak kehadiran Ustaz Awi. Suara lantunan doa dari musala kecil di tengah hutan terpencil mengisi malam-malam hening di Dusun Nunusan.
Menjadi Bagian dari Masyarakat
Perjalanan dakwah menuntut seorang dai untuk mampu beradaptasi dengan berbagai kebutuhan masyarakat. Bukan hanya mengisi kebutuhan rohani, tetapi juga siap hadir dalam keseharian mereka.
Terlebih, pengabdian di dusun terpencil yang sangat jauh dari dunia luar membutuhkan penyesuaian diri yang tidak mudah.
Selain turut membantu masyarakat mencari hasil alam dengan menyusuri hutan, Ustaz Awi juga aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan: membantu memperbaiki jalan, panen jengkol dan petai, hingga memberikan layanan cukur gratis kepada penduduk setempat.
Dengan sabar, ia mencukur rambut anak-anak satu per satu. Tidak hanya anak-anak, para pria dewasa pun antusias meminta dicukur oleh Ustaz Awi.
Artikel Terkait
BMKG Prakirakan Cuaca Bervariasi, Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Daerah di Sulsel
Damkar Mamuju Evakuasi Piton 6 Meter yang Memangsa Kambing Warga
BMKG Prakirakan Cuaca Makassar Berawan Sepanjang Hari Minggu
KPK Tetapkan Bupati Tulungagung Tersangka Pemerasan Rp5 Miliar ke Pejabat Bawahan