Budidaya Nila Salin Karawang: Produktivitas 80 Ton/Hektar untuk Ekspor

- Minggu, 02 November 2025 | 19:20 WIB
Budidaya Nila Salin Karawang: Produktivitas 80 Ton/Hektar untuk Ekspor
Budidaya Nila Salin Karawang: Inovasi KKP untuk Ekspor & Ekonomi Biru

KKP Luncurkan Budidaya Nila Salin di Karawang, Dukung Ekspor dan Ekonomi Biru

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, melakukan kunjungan kerja untuk meninjau langsung lokasi percontohan budidaya ikan nila salin (BINS) di Karawang, Jawa Barat.

Kehadiran Raffi Ahmad didampingi rekan-rekan dari The Dudas-1, yaitu Ariel Noah, Gading Marten, dan Desta, menyemarakkan acara dan menjadi perhatian khusus bagi masyarakat serta pekerja di lokasi.

Revitalisasi Tambak Tradisional Menuju Modern Berorientasi Ekspor

Inovasi budidaya ikan nila salin ini merupakan langkah nyata Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam merevitalisasi tambak tradisional menjadi kawasan budidaya yang modern. Program ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan hasil panen, tetapi juga berorientasi pada pasar ekspor.

Menteri Trenggono dalam siaran resminya menyatakan bahwa pembangunan modeling nila salin di Karawang ini ingin dijadikan contoh nyata penerapan ekonomi biru. Konsep ini menekankan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan.

Dampak Positif: Peningkatan Produktivitas Hingga 80 Ton per Hektare

Menurut penjelasan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, penerapan teknologi modern dalam BINS Karawang membawa dampak signifikan. Produktivitas tambak yang sebelumnya hanya sekitar 0,6 ton per hektare per siklus, kini mampu melonjak hingga 80 ton per hektare per siklus.

Peningkatan drastis ini tidak hanya berpengaruh pada volume produksi dan ekspor, tetapi juga membuka lebih banyak peluang kerja bagi masyarakat sekitar serta memperkuat ekonomi daerah melalui aktivitas pendukung seperti pakan, logistik, dan pengolahan hasil perikanan.

Dukungan Publik Figur untuk Gaungkan Perikanan Modern ke Generasi Muda

Menteri Trenggono berharap keterlibatan para figur publik seperti Raffi Ahmad dan kawan-kawan dapat menjadi jembatan untuk mengenalkan konsep ekonomi biru dan budidaya ikan modern kepada generasi muda.

Raffi Ahmad sendiri menyampaikan kekagumannya terhadap inovasi yang dikembangkan KKP. Menurutnya, modeling BINS di Karawang adalah terobosan besar yang dapat membuka lapangan kerja baru sekaligus menyediakan sumber protein hewani yang sehat bagi masyarakat.

Proyeksi Pasar Global dan Posisi Indonesia

Pemilihan ikan nila salin didasarkan pada keunggulannya yang mampu hidup di air payau serta memiliki pasar yang luas. Berdasarkan data, permintaan global ikan tilapia diproyeksikan mencapai 8,9 juta ton pada tahun 2030.

Di kancah global, Indonesia kini tercatat sebagai produsen tilapia terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok, dengan produksi sekitar 1,4 juta ton. Indonesia juga merupakan eksportir nila terbesar ketiga di dunia, setelah Tiongkok dan Kolombia.

Infrastruktur dan Target Ke Depan

Kawasan BINS Karawang seluas 230 hektare telah dilengkapi dengan infrastruktur pendukung lengkap, seperti sistem Intake Air Laut dan Tawar, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dan fasilitas kawasan terpadu.

Dengan sistem modern dan terintegrasi, BINS Karawang ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas hingga 84 ton per hektare per tahun dengan volume produksi mencapai 11.150 ton per tahun. Proyek strategis nasional ini juga diproyeksikan dapat membuka sekitar 500 lapangan kerja baru.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar