Dari Kritik Pedas ke Juru Bicara: Jejak Digital yang Menghantui Para Politisi PSI

- Rabu, 04 Februari 2026 | 07:20 WIB
Dari Kritik Pedas ke Juru Bicara: Jejak Digital yang Menghantui Para Politisi PSI

Jejak Digital yang Memalukan? Lihat Saja yang Ditinggalkan Para Politisi PSI Ini.

Nama Dedek Prayudi belakangan ramai diperbincangkan. Sosok yang satu ini, seperti banyak koleganya di Partai Solidaritas Indonesia, punya sejarah panjang sebagai pengkritik tajam Prabowo Subianto. Dulu, di arena Pilpres 2014 dan 2019, mereka berada di barisan yang berseberangan.

Ucapannya waktu itu keras. Sangat keras.

"PRABOWO ITU BUKAN MUKA BARU. MUKA LAMA INGIN DICITRAKAN BARU. BICARA DOSANYA BISA 4 HARI 4 MALAM."

Kalimat itu pernah viral. Sekarang? Keadaannya berbalik seratus delapan puluh derajat. Dedek Prayudi justru duduk nyaman sebagai Juru Bicara dan Tenaga Ahli Utama di Kantor Komunikasi Kepresidenan pemerintahan Prabowo-Gibran. Dia resmi dilantik November 2024 lalu. Perubahan peran yang begitu drastis ini tentu mengundang tanya: masih adakah rasa malu?

Bagi sebagian pengamat, tampaknya tidak. Dunia politik memang penuh kejutan dan lika-liku. Tapi lompatan dari musuh bebuyutan menjadi juru bicara resmi adalah sebuah drama yang sulit diabaikan.

Era media sosial membuat semua rekaman itu abadi. Jejak digital adalah saksi bisu yang paling jujur. Netizen pun tak tinggal diam. Di Twitter, misalnya, banyak yang menyoroti fenomena ini dengan sindiran pedas. Salah satu cuitan menyebut soal "lidah yang tahan gesek dan geser".

Cuitan lain bahkan berkomentar, membahas hal serupa bisa "7 hari 7 malam" tak akan selesai, karena yang bersangkutan dianggap "rela menjilat ludahnya sendiri".

Inilah ironi zaman sekarang. Apa yang dulu diucapkan dengan penuh keyakinan, kini berbalik menghantui. Bukan cuma Dedek, beberapa nama lain dari partai yang sama juga mengalami transformasi politik serupa. Mereka adalah bukti nyata bahwa di panggung politik, tidak ada permusuhan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang terus bergerak. Lantas, mana yang lebih memalukan: jejak digitalnya, atau kenyataan bahwa semua orang bisa melihatnya dengan jelas?

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar