Sejarah Konflik Moro: Mengapa Muslim Filipina Masih Berjuang?

- Minggu, 02 November 2025 | 05:40 WIB
Sejarah Konflik Moro: Mengapa Muslim Filipina Masih Berjuang?
Sejarah Konflik Muslim Filipina: Akar Masalah dan Perlawanan Moro

Sejarah Konflik Muslim Filipina: Mengapa Umat Islam di Mindanao Masih Memberontak?

Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi tentang Filipina:

"Kenapa orang Muslim di Filipina masih suka memberontak?"

"Kenapa mereka tidak mau damai saja dan mengikuti arus negara yang sudah merdeka?"

Namun, mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Mengapa mereka masih harus memberontak?

Apa yang sebenarnya terjadi hingga sebuah bangsa yang dulu berdaulat kini disebut separatis di tanahnya sendiri?

Sejarah Islam di Filipina: Dari Negeri Islam yang Berdaulat

Sebelum kapal-kapal Eropa menjejakkan jangkar di pesisir Filipina, tanah itu telah mengenal Islam dengan baik.

Sejak abad ke-14, para ulama dan pedagang dari Malaka, Brunei, dan Arab datang membawa ajaran Islam. Mereka mengajarkan kalimat tauhid, membangun masyarakat beradab, dan menanamkan hukum Allah di bumi Sulu dan Mindanao.

Tahun 1450, berdirilah Kesultanan Sulu, disusul Kesultanan Maguindanao pada awal 1500-an. Dua kerajaan Islam yang berdaulat, teratur, dan makmur ini memiliki sistem pemerintahan, pelabuhan, dan peradaban yang maju.

1521: Kedatangan Spanyol dan Awal Penjajahan

Tahun 1521, datanglah Ferdinand Magellan membawa misi penjajahan dengan semboyan: Gold, Glory, and Gospel (Emas, Kejayaan, dan Injil).

Di bawah bendera Tuhan, Spanyol menaklukkan Luzon dan Visayas, membaptis penduduk, menghancurkan masjid, dan memaksa yang tersisa untuk tunduk pada salib. Umat Islam disebut kafir dan yang melawan dianggap musuh Tuhan.

Perang Moro: Perlawanan Umat Islam Filipina

Perlawanan datang dari selatan. Dua kesultanan Sulu dan Maguindanao bangkit mempertahankan iman dan kedaulatan mereka. Selama tiga abad, mereka melawan penjajahan Spanyol dalam apa yang dikenal sebagai Perang Moro.

Bagi Spanyol, perang ini adalah lanjutan dari Reconquista - perang melawan Islam yang dahulu mereka menangkan di Andalusia. Mereka menyebut umat Islam Filipina dengan nama "Moro" dari kata Moors, musuh Islam di Spanyol.

1898: Penjajahan Amerika Serikat di Filipina

Ketika Spanyol kalah oleh Amerika pada 1898, Filipina dijual seharga 20 juta dolar. Bagi rakyat Moro, penjajah hanya berganti bendera.

Amerika datang dengan dalih "modernisasi", tetapi yang mereka lakukan adalah membubarkan sistem kesultanan, menghapus hukum Islam, dan menyita tanah adat. Melalui program transmigrasi (1903-1930-an), ratusan ribu penduduk Kristen dari utara dipindahkan ke Mindanao.

1946: Kemerdekaan yang Tidak Merata

Filipina merdeka tahun 1946, namun kemerdekaan ini tidak menyentuh Mindanao secara berarti. Pemerintahan pusat - yang dikuasai elite Kristen - memandang selatan sebagai wilayah terbelakang.

Tanah adat terus dirampas atas nama pembangunan. Rakyat Moro tersingkir dari politik, ekonomi, dan pendidikan. Ketidakadilan menumpuk, dan luka sejarah semakin dalam.

Pada 1970-an, terbentuklah front-front perlawanan di wilayah Moro yang hingga kini belum berakhir, sebagai upaya untuk merebut kembali kemerdekaan dan hak-hak mereka.

Konflik Muslim Filipina bukanlah sekadar masalah kontemporer, melainkan konsekuensi dari sejarah panjang penjajahan, marginalisasi, dan perampasan hak yang berlangsung selama berabad-abad.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar