Kerusuhan Pemilu Tanzania: Protes Hasil, Larangan Oposisi, dan Kekerasan

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 19:24 WIB
Kerusuhan Pemilu Tanzania: Protes Hasil, Larangan Oposisi, dan Kekerasan

Kerusuhan Pemilu Tanzania: Protes Hasil Pemilu dan Larangan Calon Oposisi

Pemilu di Tanzania berakhir dengan kerusuhan menyusul ketidakpuasan publik terhadap hasil pemungutan suara. Presiden petahana Samia Suluhu Hassan dari partai penguasa Chama Cha Mapinduzi (CCM) dinyatakan menang setelah kandidat dari dua partai oposisi utama dilarang ikut serta dalam pemilu.

Latar Belakang Kekuasaan Partai CCM

Partai CCM telah memegang kekuasaan di Tanzania sejak tahun 1961. Untuk memperkuat posisi politiknya dan membungkam suara kritis, para penantang politik dijebloskan ke penjara atau dilarang mencalonkan diri.

Demonstrasi dan Kekerasan Pasca Pemilu

Kemarahan warga memicu unjuk rasa besar-besaran di Dar es Salaam dan berbagai kota lainnya. Massa merobek poster kampanye Hassan, menyerang kantor polisi, dan merusak tempat pemungutan suara. Menanggapi situasi ini, pemerintah mematikan akses internet dan memberlakukan jam malam.

Pembatasan Kebebasan Pers dan Informasi

Pemerintah Tanzania juga melarang jurnalis asing meliput proses pemilu. Pemblokiran komunikasi semakin mempersulit peliputan perkembangan situasi di lapangan. Situs-situs media lokal berhenti memperbarui informasi sejak hari Rabu.

Kondisi Keamanan dan Korban Jiwa

Saksi mata melaporkan demonstrasi masih berlangsung hingga Kamis malam dengan aksi pembakaran ban di kawasan Sinza dan ibu kota Dodoma. Meski terdapat laporan mengenai korban tewas, angka pastinya belum dapat dikonfirmasi karena rumah sakit dan klinik kesehatan enggan memberikan informasi kepada jurnalis.

Tanggapan Pemerintah dan Oposisi

Presiden Hassan belum memberikan pernyataan resmi mengenai kerusuhan ini. Satu-satunya pernyataan datang dari Panglima Angkatan Darat Jacob Mkunda yang menyebut demonstran sebagai penjahat.

Di Zanzibar, partai CCM juga mendeklarasikan kemenangan, namun partai oposisi ACT-Wazalendo menolak hasil tersebut. Menurut ACT-Wazalendo, pemilu harus diulang karena terjadi kecurangan sistematis termasuk pengisian kotak suara dan pemungutan suara ganda tanpa verifikasi KTP.

Kondisi Masyarakat Tanzania

Seorang warga Tanzania berusia 70 tahun menyatakan bahwa tidak pernah ada pemilu yang kredibel sejak 1995. Warga lainnya mengungkapkan ketakutan untuk berbicara terbuka karena khawatir akan ditangkap oleh pihak berwenang.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar