Krisis Sudan: Dari Pemerintahan Islam, Transisi ke Sekuler, Hingga Perang Militer vs RSF

- Jumat, 31 Oktober 2025 | 15:20 WIB
Krisis Sudan: Dari Pemerintahan Islam, Transisi ke Sekuler, Hingga Perang Militer vs RSF

Krisis Sudan: Dari Pemerintahan Islam ke Konflik Militer dan RSF

Sudan mengalami periode stabilitas relatif selama era kepemimpinan Islam di bawah Presiden Omar Al-Bashir (1993-2019). Namun, stabilitas ini mulai goyah ketika pemerintah membiarkan perkembangan milisi Janjaweed untuk menangani pemberontakan di Darfur.

Akar Konflik Sudan: Dari Janjaweed ke RSF

Keputusan Omar Bashir menggunakan milisi Janjaweed sebagai kekuatan tambahan di Darfur justru memicu masalah baru. Milisi ini kemudian berkembang menjadi Rapid Support Forces (RSF) dan terlibat dalam berbagai kejahatan perang serta genosida terhadap etnis Muslim Afrika.

Peran Barat dalam Transisi Politik Sudan

Meskipun RSF terlibat pelanggaran HAM, tekanan internasional justru terfokus pada pemerintahan Bashir. Setelah unjuk rasa menuntut demokrasi, dukungan Barat beralih kepada militer dan RSF untuk melakukan perubahan kekuasaan, dengan tujuan menghapuskan pengaruh politik Islam.

Transformasi Sistem Pemerintahan Sudan Pasca-Bashir

Setelah jatuhnya Bashir, terjadi perubahan drastis di Sudan. Aktivis Islam diburu, partai Islam dibubarkan, dan sistem syari'at dihapuskan. Sudan bertransformasi menjadi negara sekuler dan bahkan memulai proses normalisasi hubungan dengan Israel.

Konflik Kekuasaan Militer vs RSF

Junta militer mengambil alih kendali negara dengan pemerintahan sipil yang dibentuk berulang kali dikudeta. Ketegangan memuncak ketika militer Sudan dan RSF yang sebelumnya bersekutu pecah kongsi akibat berebut kekuasaan, memicu konflik bersenjata yang merugikan rakyat Sudan.

Pelajaran dari Krisis Sudan

Transisi politik Sudan menunjukkan kompleksitas perubahan sistem pemerintahan. Konflik berkelanjutan antara faksi militer mengakibatkan ketidakstabilan yang berdampak pada keamanan dan kesejahteraan masyarakat sipil.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar