Tangis Tetty Herawati Napitupulu masih belum kering. Di usianya yang ke-42, ia harus merelakan kepergian anak semata wayangnya, Reza Valentino Simamora. Pemuda 21 tahun itu tewas dalam sebuah insiden kerja di Korea Selatan, meninggalkan luka yang dalam bagi sang ibu.
Musibah itu terjadi di atas kapal penangkap ikan di laut lepas Korea, tepatnya pada 23 September 2025. Saat menarik jaring, kaki Reza ternyata terikat pada tali sling. Akibatnya, ia terlempar dengan keras ke laut dan tenggelam. Butuh empat hari bagi tim pencari untuk menemukan jenazahnya pada 27 September. Saat ditemukan, terlihat luka-luka di bagian dada Reza.
Ibu itu jelas tak bisa melupakan detik-detik jenazah anaknya tiba di rumah duka, 5 Oktober lalu. Air matanya jatuh berderai, tak terbendung lagi. “Kabar kecelakaan ini kami terima bukan langsung dari KBRI atau pemilik kapal, tapi justru dari teman kerjanya,” kenang Tetty dengan suara lirih, saat kami berbincang di rumahnya di Deli Serdang akhir Januari lalu.
Reza sebenarnya berangkat dengan prosedur resmi. Ia berangkat ke Negeri Ginseng pada Maret 2025 sebagai pekerja migran skema pemerintah (G to G) untuk bekerja di kapal milik PT Garamho. Sebelumnya, ia menyiapkan diri dengan mengikuti kursus bahasa Korea intensif selama empat bulan di sebuah lembaga pelatihan di Karanganyar, Semarang.
“Dia belajar bahasa Korea dulu di Semarang, persiapan yang matang,” ujar Tetty mengenang masa-masa putranya masih berjuang untuk meraih impian.
Biaya pemulangan jenazahnya akhirnya ditanggung oleh BP2MI. Namun, di balik itu, masih ada banyak pertanyaan dan kekecewaan yang membekas.
Bantahan Soal Isu Penjualan Organ
Luka di dada Reza sempat memicu spekulasi liar, termasuk dugaan penjualan organ. Tetty pun angkat bicara. Ia menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan pertemuan virtual dengan otoritas Korea Selatan sebelum jenazah tiba.
“Mereka sudah mengingatkan, ‘Keluarga jangan kaget kalau ada luka di dada, itu akibat terkena tali sling, bukan karena pengambilan organ’,” jelas Tetty menirukan penjelasan pihak Korea. “Memang di sana ada lukanya.”
Penjelasan itu sedikit meredakan kegelisahannya, meski rasa sakit tetap ada.
Kekecewaan pada Surat Kematian yang Tak Jelas
Namun begitu, ada hal lain yang justru membuat Tetty semakin kecewa. Pihak rumah sakit di Korea disebutnya menyatakan anaknya meninggal tanpa sebab yang jelas dalam surat kematian. Padahal, bukti-bukti menunjukkan Reza menjadi korban kecelakaan kerja.
“Itu di surat kematian dari Korea tertulis ‘meninggal tanpa sebab’. Saya sangat, sangat kecewa,” imbuhnya dengan nada tinggi.
Kecelakaan kerja ini sendiri telah dikonfirmasi oleh pejabat pemerintah. Direktur Jenderal Pemberdayaan Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Fachri, memberikan keterangan resmi.
“PMI atas nama Reza Valentino Simamora adalah pekerja migran Indonesia dengan penempatan G to G jenis Visa E-9,” jelas Fachri.
“Pada tanggal 23 September 2025 pukul 07.48, yang bersangkutan terjatuh dari kapal yang beroperasi sekitar 25 mil laut Barat Daya Pulau Yeonpyeong, Incheon, Korea. Ia jatuh ke laut ketika bekerja menarik jaring karena tali kawat penahan badannya terputus,” lanjutnya merinci kronologi.
Perjuangan Menuntut Hak yang Tertahan
Kini, setelah duka yang menderanya, Tetty masih harus berjuang menuntut hak-hak anaknya yang belum diberikan. Menurutnya, perusahaan tempat Reza bekerja sama sekali belum membayarkan klaim asuransi jiwa. Bahkan gaji Reza untuk periode 1 hingga 23 September 2025 pun masih tertahan.
“Asuransi dari pihak Korea, belum ada sepeser pun yang keluar. Kami juga menyesalkan sisa gajinya belum dibayarkan. Satu-satunya yang sudah cair baru dari BPJS Ketenagakerjaan Indonesia, senilai Rp 88 juta,” keluhnya.
Di tengah jalan buntu itu, Tetty kini mengarahkan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap ada perhatian khusus dari pucuk pimpinan negara agar hak anaknya bisa segera dipenuhi.
“Bapak Presiden Prabowo, saya mohon dengan sangat, bantu kami. Kami tidak meminta yang muluk-muluk, hanya hak anak kami saja yang masih tertahan. Terima kasih, Bapak Prabowo,” tutup Tetty dengan suara penuh harap.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu