Presiden Prabowo Perintahkan Penyelesaian Utang Kereta Cepat Whoosh
Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan jajaran menterinya untuk segera mencari skema terbaik guna menyelesaikan masalah utang kereta cepat Jakarta-Bandung, Whoosh. Perintah ini mencakup kajian mendetail terhadap angka-angka terkait dan berbagai skenario penyelesaian utang yang paling menguntungkan bagi pemerintah.
Perintah Langsung dalam Rapat Terbatas
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengungkapkan bahwa perintah tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo dalam sebuah rapat terbatas yang digelar di Istana Kepresidenan RI, Jakarta, pada Rabu malam. Dalam rapat itu, Presiden meminta tim untuk menghitung ulang detail finansial dan mengeksplorasi berbagai opsi.
"Pak Airlangga, Menteri Keuangan, kemudian CEO Danantara diminta untuk menghitung lagi detail-detailnya, kemudian opsi-opsi untuk meminta, misalnya, perpanjangan masa pinjaman. Itu bagian dari skenario-skenario, skema yang terbaik," jelas Prasetyo Hadi.
Menteri yang Terlibat dalam Pembahasan
Rapat terbatas tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi negara, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Fokus pada Restrukturisasi Utang Whoosh
Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemerintah sedang serius mencari formula terbaik untuk menangani utang Whoosh. Langkah-langkah yang sedang dikaji termasuk perhitungan angka yang tepat dan kemungkinan meminta keringanan dalam hal waktu pembayaran kepada kreditur.
Meski fokus pada Whoosh, pemerintah juga menyatakan komitmennya untuk menangani berbagai masalah transportasi nasional lainnya. "Tidak hanya Whoosh, ya, mulai dari transportasi kereta api yang non-kereta api cepat, kemudian transportasi bus, transportasi kapal, semuanya sedang coba kita perbaiki," tambahnya.
Utang Whoosh dan Komitmen Pemerintah
Masalah penyelesaian utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh menjadi sorotan publik mengingat besarnya beban utang yang ditanggung, yaitu mencapai Rp116 triliun. Menanggapi hal ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah tidak akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menalangi utang tersebut. Utang proyek ini merupakan tanggung jawab BUMN yang terlibat, bukan beban negara.
Proses Negosiasi Restrukturisasi Berlangsung
Dalam perkembangan terpisah, Kepala Badan Pengaturan BUMN sekaligus CEO Danantara, Dony Oskaria, mengonfirmasi bahwa proses negosiasi restrukturisasi utang Whoosh masih terus berjalan. Tim negosiasi dari Danantara bersiap untuk kembali berangkat ke China guna membahas detail pinjaman dengan Pemerintah China dan perusahaan mitra di Konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
"Terus kami bernegosiasi, kami akan berangkat lagi (ke China) untuk bernegosiasi mengenai term dan pinjamannya. Ini menjadi poin negosiasi berkaitan sama jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan kemudian ada beberapa mata uang yang juga akan kita diskusikan dengan mereka," kata Dony di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta.
Dengan langkah-langkah strategis ini, pemerintah berupaya menemukan solusi berkelanjutan untuk mengatasi tantangan finansial proyek strategis nasional tersebut.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu