Fenomena Gus Palsu: Pengajian atau Hiburan yang Menyesatkan?

- Rabu, 29 Oktober 2025 | 11:20 WIB
Fenomena Gus Palsu: Pengajian atau Hiburan yang Menyesatkan?

Ketika "Gus" Jadi Gimmick: Fenomena Pengajian Hiburan yang Mengkhawatirkan

Oleh: Wilda Wahab

Marak di platform media sosial seperti TikTok, muncul berbagai sosok yang dipanggil "Gus" dalam berbagai konten. Mulai dari pengajian, majelis taklim, stand-up comedy, hingga talk show dengan konsep yang tidak jelas. Fenomena "Gus" seperti ini justru menimbulkan kesalahpahaman masyarakat tentang dunia pesantren yang sebenarnya.

Banyak komentar netizen yang menyoroti fenomena ini: "Kayak gini laku di Jawa." "Main raja-rajahan." "Isinya astagfirullah..."

Bahkan orang yang bukan santri pun dapat mengenali bahwa praktik seperti ini tidak sesuai dengan nilai-nilai pesantren.

Bentuk Penyimpangan dalam Majelis Ilmu

Beberapa perilaku yang kerap ditampilkan antara lain bersalaman dengan perempuan muda, menggombal jamaah, memberi bunga, dan bercanda layaknya sedang manggung. Yang lebih memprihatinkan, ada yang melantunkan shalawat bersama biduan dengan pakaian tidak menutup aurat. Setiap ada penanya perempuan, sikapnya dibuat-buat seolah terpana, bahkan sampai meminta jamaah perempuan menyanyi.

Pertanyaannya, ini pengajian atau hiburan semata?

Pembelaan yang Keliru

Yang lebih miris, banyak yang membela dengan alasan: "Biar jamaah ngga bosan, kalau ngga lucu nanti sepi." Padahal jika niatnya benar-benar untuk ngaji, mengapa harus ada unsur lucu dulu baru jamaah datang?

Biarlah majelis itu sepi, justru dari situ akan terlihat siapa yang datang karena ilmu dan siapa yang datang karena hiburan. Agama ini sudah mulia tanpa perlu dipoles dengan tawa.

Mengembalikan Tujuan Majelis Ilmu

Imam al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad menyatakan: Tujuan ceramah adalah membuat hati manusia gelisah karena akhirat, bukan tenang karena dunia. Bukan untuk membuat mereka tertawa, tapi tersadar.

Kita datang ke majelis bukan untuk dihibur, tapi untuk menambah beban kesadaran bahwa kita ini hamba yang banyak salah, bahwa surga tak murah, dan neraka bukan dongeng.

Dampak Negatif bagi Masyarakat

Jangan heran jika minat masyarakat terhadap ilmu menurun, akhlak tak bertambah baik, dan ilmu tak bertambah dalam. Penyebabnya karena yang mereka datangi bukan majelis ilmu, tapi panggung sandiwara.

Yang salah bukan hanya "Gus"-nya, tapi juga yang memberi panggung, yang memberi mikrofon, dan yang dengan sadar hadir demi tawa, bukan demi taqwa.

Refleksi untuk Perbaikan

Jika tetangga sebelah saja dengan segala kekurangannya bisa membuat majelis yang khusyuk tanpa gimmick, masa kita yang mengaku Ahlussunnah wal Jamaah justru menjadikan pengajian sebagai komedi?

Sudah saatnya kita kembali menata arah. Datang ke majelis bukan untuk tertawa, tapi untuk tersadar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar