Krisis Air Bersih di Kampung Apung Kapuk Teko, Warga Terpaksa Beli Air untuk Minum
Warga Kampung Apung, Kapuk Teko, Muara Angke, Jakarta Barat, khususnya di daerah Kalideres dan Cengkareng, menghadapi krisis air bersih yang parah. Kualitas air tanah di lokasi ini sangat buruk, keruh, dan tidak layak untuk dikonsumsi.
Warga Bergantung pada Air Galon dan Tangki
Akibat kondisi air yang tidak layak, masyarakat setempat terpaksa memenuhi kebutuhan air bersih mereka dengan membeli air galon isi ulang atau air tangki yang dijual di sekitar kawasan. Ketergantungan ini menjadi beban ekonomi tambahan bagi warga.
Laporan ke Pemerintah dan Janji Bantuan
Keluhan warga telah disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Menanggapi laporan tersebut, politisi PDIP itu langsung memerintahkan Pemerintah Kota Jakarta Barat untuk segera menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak.
Wali Kota Jakarta Barat, Uus Kuswanto, yang mendampingi Pramono, membenarkan kondisi sulit air bersih di Kampung Apung. Ia berjanji akan segera berkoordinasi dengan Perusahaan Air Minum (PAM) untuk mengirimkan pasokan air bersih sambil menunggu proses pemasangan jaringan PAM yang masih berlangsung.
Kondisi Memprihatinkan Air Tanah Kampung Apung
Kondisi di Kampung Apung Kapuk Teko sangat memprihatinkan. Dinding-dinding MCK warga telah menguning akibat endapan air kotor. Saat ditimba, air sumur mengeluarkan aroma karat yang menyengat. Air yang ditampung di ember atau bak mandi dengan cepat berubah warna menjadi cokelat kekuningan.
Ketua RT 10, Rudi (55), menyatakan bahwa air tanah di kampungnya sudah tidak dapat digunakan untuk memasak sejak pertengahan tahun 1990-an. Diduga, penurunan kualitas air ini disebabkan oleh kontaminasi limbah dari kawasan industri di sekitarnya.
Dampak Krisis Air pada Kehidupan Sehari-hari
Kesulitan air bersih memaksa warga hanya menggunakan air sumur yang keruh untuk keperluan mandi dan mencuci. Sementara untuk konsumsi seperti minum dan memasak, mereka harus membeli air pikul dengan harga Rp 6.000 hingga Rp 7.000 per pikul. Setiap rumah tangga bisa menghabiskan dua hingga lima pikul air per minggu, yang menjadi pengeluaran rutin yang signifikan.
Kenangan Masa Lalu dan Perubahan Drastis
Kampung Apung di Kapuk Teko dulunya merupakan kawasan persawahan dan empang yang subur. Rudi, Ketua RT 10, mengenang masa kecilnya di tahun 1980-an ketika kawasan ini masih asri dan air tanahnya masih bisa diminum langsung dari sumur.
Namun, kondisi berubah drastis ketika banjir mulai rutin melanda kampung ini menjelang tahun 1990. Genangan air tidak pernah surut sepenuhnya, dengan ketinggian mencapai dua hingga tiga meter di beberapa rumah. Warga pun beradaptasi dengan menguruk tanah dan membangun rumah panggung untuk bertahan hidup.
Warga Kampung Apung berharap adanya perhatian dan penataan serius dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka, termasuk penyediaan akses air bersih dan fasilitas umum yang masih sangat minim.
Artikel Terkait
Manchester United Tertahan di Peringkat Ketiga Usai Ditahan Imbang Sunderland
Prabowo Canangkan Pembangunan 1.582 Kapal Ikan untuk Nelayan, Tegaskan Laut Indonesia Tak Boleh Dinikmati Kapal Asing
RB Leipzig Taklukkan St. Pauli 2-1, Jaga Asa ke Liga Champions
Persis Solo vs Persebaya Berakhir Imbang 0-0, Peluang di Papan Atas dan Bawah Masih Terbuka