Buzzer Bayaran di Balik Kabinet: Siapa Dalangnya?

- Kamis, 23 Oktober 2025 | 11:25 WIB
Buzzer Bayaran di Balik Kabinet: Siapa Dalangnya?
Kajian Politik Buzzer Tikus di Kabinet: Analisis dan Kritik | MURIANETWORK.COM

Kajian Politik Buzzer Tikus di Kabinet: Analisis dan Kritik

MURIANETWORK.COM Kajian Politik Merah Putih menggelar pertemuan darurat untuk membahas isu buzzer di dalam Kabinet Merah Putih. Pertemuan ini digelar pada Rabu, 22 Oktober 2025, menanggapi permintaan mahasiswa yang tengah mempelajari politik kontemporer.

Dalam keterangannya pada Kamis, 23 Oktober 2025, Sutoyo Abadi mengungkapkan bahwa para mahasiswa meminta dibahasnya fenomena "buzzer tikus telah menguasai Kabinet Merah Putih." Sutoyo mengaku merasakan ketegangan mengenai arah diskusi yang akan berlangsung.

Analogi Buzzer dan Sifat Tikus

Sutoyo memaparkan bahwa apa yang ditemukan mahasiswa memiliki kemiripan dengan sifat tikus, yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, daya ingat kuat, dan daya tahan fisik yang baik. "Mereka persis seperti buzzer yang sedang berkembang biak di Indonesia. Mereka adalah hewan sosial yang hidup dalam komunitas, membentuk ikatan yang kuat, berkomunikasi melalui suara dan sentuhan, bekerja sama dan saling menjaga satu sama lain," ujarnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan, "Buzzer tikus buta warna dan memiliki penglihatan yang buruk dalam cahaya terang, tetapi mampu melihat dan bekerja dalam keadaan situasi gelap."

Transformasi Buzzer Tikus di Lingkaran Kekuasaan

Menurut Sutoyo, tikus jenis ini telah banyak menjelma menjadi menteri, anggota dewan, intelektual tukang, kritikus jalanan, pegiat survei pesanan, dan penjilat laten. Mereka dikatakan mencari posisinya masing-masing dan mengais remah-remah dengan analisis apa pun untuk bisa hidup di bawah "Bos Tikus" yang menjadi junjungannya.

"Kelompok intelektual tikus selama ini suka berdasi, baru dipakai setelah turun dari ojek dan masuk ruang pertemuan seolah baru turun dari jet pribadinya," kata Sutoyo.

Ilusi Kekuatan dan Realita Kebobrokan

Sutoyo juga mengkritik ilusi kekuatan yang ditampilkan. Saat membuka laptop sewaan, mereka langsung menampilkan rancangan kerja yang mendeskripsikan Bos Tikusnya sebagai kekuatan global. Di forum internasional, pidato-pidato dengan judul seperti "Indonesia Emas" ditampilkan, menciptakan gambaran Indonesia sebagai kekuatan geopolitik dunia.

Ia menilai terlalu banyak pejabat negara yang terlanjur buta, bisu, dan tuli, tidak menyadari bahwa di muka bumi ini sudah tidak ada tempat bersembunyi. Kehebatan, lanjutnya, hanya bersembunyi di balik angka-angka survei atau statistik yang mudah dimodifikasi sesuai pesanan penguasa.

Budaya Feodal dan Subkultur Pujian

Disebutkan bahwa watak pejabat di Indonesia masih penuh dengan makhluk feodal. Budaya puji-memuji dan pembohongan telah menjadi subkultur yang mendarah daging dan menjadi watak kejumudannya.

"Berkembang biak buzzer tikus, jelas tidak mengenal etika, moral, baik dan buruk apalagi soal kejujuran dan keadilan. Yang penting bisa merampok dengan cara apa pun," katanya.

Perbandingan dengan Era Sebelumnya dan Kekhawatiran Masa Depan

Sutoyo memberikan gambaran rapat kabinet yang dianggapnya sangat jelas menunjukkan fenomena ini. "Para menteri jegigisan kayaknya baru rapat RW," ujarnya, mengilustrasikan suasana yang tidak profesional.

Ia membandingkan dengan era Presiden Soeharto, yang menurutnya menteri dengan karakter seperti itu tidak akan bisa masuk kabinet. "Celaka Indonesia bisa menjadi ternak buzzer tikus bisa mereproduksi menteri seperti ini secara masal masuk kabinet Merah Putih," ungkap Sutoyo.

Ia menambahkan, "Kecelakaan sejak induk buzzer tikusnya 10 tahun sebagai kepala negara, semua buta nilai kebajikan dan diperparah buta sejarah, hidupnya hanya di tempat oleh tikus raksasa dari luar dirinya."

Kesimpulan: Negara dalam Bayangan Semu

Sutoyo menyimpulkan bahwa wajar jika negara ini terjebak dalam populisme tanpa menghasilkan peradaban kesetaraan dan keadilan. Hal ini hanya melahirkan "euforia palsu" dan tokoh-tokoh yang lahir dari dukungan buzzer dan follower tikus, tanpa ketajaman ideologis dan pemahaman historis.

"Kabinet Merah Putih seperti berjalan di atas bayangan semu, semua tenggelam dalam kegelapan, kebohongan dan tipuan dan berjalan tanpa arah berbasis nilai nilai sejarah dan ideologi," tambah Sutoyo.

Di akhir keterangannya, ia menyatakan bahwa di alam yang dikendalikan pejabat bermental buzzer tikus, kondisi mental bangsa dan paradigma elite politik rusak parah. Mereka tampil sekadar bisa mempesona dengan kepalsuan, manipulatif, dan kepentingan popularitas semata.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar