Padahal dari kitab kuning itulah lahir logika moral dan sosial yang menegakkan bangsa ini: logika tauhid, logika keadilan, logika kemanusiaan. Sementara dari teori Barat yang mereka sanjung lahir logika pasar: siapa kuat dia menang, siapa miskin dia salah.
Perlawanan Santri di Era Digital
Santri hari ini harus menyadari bahwa perjuangan belum selesai. Penjajahan tidak lagi berada di pelabuhan, tetapi di pasar modal. Tidak lagi di tanah jajahan, tetapi di kepala rakyat yang dijejali iklan dan wacana palsu. Inilah zaman dimana penjajahan tidak menindas tubuh, tetapi mematikan ruh.
Hari Santri bukan sekadar peringatan sejarah. Ia adalah manifesto perlawanan ideologis terhadap sistem global yang ingin menghapus Tuhan dari ruang publik, menggantikan iman dengan indeks ekonomi, mengganti dzikir dengan digitalisasi, dan mengganti ulama dengan influencer.
Panggilan untuk Santri Modern
Wahai santri, jangan pernah tunduk pada jebakan kemajuan semu. Jadilah oposisi moral bagi zaman yang kehilangan arah. Lawan setiap penjajahan pikiran yang mengajarkan bahwa hidup hanyalah urusan perut dan gengsi.
Ingatlah, kalian adalah pewaris darah suci para pejuang yang menulis kemerdekaan dengan air mata dan takbir, bukan dengan tanda tangan di atas kontrak investasi asing.
Merdeka tidak cukup hanya dengan bendera, tetapi dengan kesadaran bahwa kita tidak boleh menjadi budak dalam bentuk baru. Dan tugas itu - seperti dulu, kini, dan selamanya - berada di tangan santri.
SELAMAT HARI SANTRI
Benz Jono Hartono
Praktisi Media Massa dan Vice Director Confederation ASEAN Journalist (CAJ) PWI Pusat di Jakarta
Artikel Terkait
Real Madrid Hancurkan Manchester City, VinÃcius Balas Sindiran Suporter
Nyepi 2026 Jatuh pada 19 Maret, Diawali Rangkaian Ritual Sakral
Panen Raya Majalengka Capai 11,5 Ton per Hektare, Stok Beras Nasional Dipastikan Surplus
Dua Turis Asing Pembuat Konten Porno Viral Berjaket Ojol Digagalkan Kabur di Bandara Bali