Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Bakal Gelar Penangkapan Besar-Besaran untuk Berantas Mafia Perdagangan
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan rencana aksi penangkapan besar-besaran terhadap mafia perdagangan di Indonesia. Operasi ini tidak hanya menyasar pelaku penyelundupan, tetapi juga para pelaku praktik under invoicing yang merugikan negara.
Apa Itu Under Invoicing dan Bahayanya?
Praktik under invoicing adalah bentuk kecurangan dengan mencantumkan nilai faktur yang lebih rendah dari harga sesungguhnya pada suatu barang atau jasa. Tindakan ini sering dilakukan importir untuk mengelak dari kewajiban membayar pajak dan bea masuk yang seharusnya dibayarkan ke negara, sehingga menimbulkan kerugian finansial yang signifikan.
Purbaya menegaskan bahwa penegakan hukum akan dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap pelaku yang memiliki backing atau perlindungan dari orang berpengaruh sekalipun.
Sektor yang Menjadi Target Pemberantasan
Dalam pernyataannya di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Purbaya menyebut sektor-sektor yang rawan praktik ini, antara lain tekstil, rokok, dan baja. Ia berjanji akan menindak satu per satu dengan sistematis.
“Rokok, saya akan beresin. Jadi (dari) rokok, abis itu tekstil, habis itu baja, habis itu yang lain. Satu per satu saya akan kejar,” tegas Purbaya.
Dukungan Penuh dari Pimpinan Tertinggi
Purbaya juga memastikan bahwa langkah ini didukung penuh oleh Presiden Prabowo Subianto. Ia meminta jajarannya di Bea dan Cukai untuk tidak takut menindak, meski pelaku diduga memiliki “bekingan” kuat.
“Ya sudah sekarang sikat aja. Kan Dirjen Bea Cukai saya bintang tiga. Kecuali bintang empatnya yang nyuruh. Kalau bintang empat kita lapor presiden,” ujarnya.
Strategi Perbaikan Ekonomi Jangka Panjang
Langkah tegas ini bukan hanya tentang penindakan, melainkan bagian dari strategi memperbaiki struktur perekonomian. Purbaya meyakini, dengan memberantas kebocoran dan kecurangan, pertumbuhan ekonomi dapat meningkat secara bertahap.
“Dengan strategi seperti itu, saya yakin pelan-pelan ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Tahun depan mungkin bisa mendekati 6 persen atau lebih,” tambahnya.
Nama-Nama Pelaku Sudah Diketahui
Purbaya mengungkapkan bahwa ia telah mengantongi nama-nama pelaku utama di balik praktik under invoicing dan penyelundupan. Saat ini, timnya tengah memburu para pemain besar yang berada di balik jaringan tersebut.
“Yang under invoicing, yang selama ini nyelundupin, yang banyak apa, tekstil, baja apa segala macam itu kan sudah ada nama-nama pemainnya. Tinggal kita pilih aja siapa yang mau kita proses,” ujar Purbaya.
Kendala Sistem LNSW dan Rencana Integrasi Data
Di sisi lain, Purbaya mengakui masih adanya kendala dalam pemantauan barang masuk dan keluar karena data dari Lembaga National Single Window (LNSW) yang belum lengkap. Padahal, LNSW seharusnya berperan sebagai “intelijen IT” yang mampu memantau pergerakan barang secara real-time.
Ke depan, Purbaya berencana memperbaiki dan mengintegrasikan sistem LNSW dengan data Bea Cukai dan instansi terkait lainnya. Hal ini diharapkan dapat mempermudah deteksi dini terhadap praktik under invoicing dan penyelundupan.
Dengan langkah-langkah tersebut, Pemerintah berharap penerimaan pajak dan bea masuk dapat meningkat, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Truk Tangki Modifikasi Muat 5 Ton Solar Terguling, Puluhan Kecelakaan Beruntun di Bangkalan
Polisi Bongkar Judi Online Skala Besar di Batam, Dua Tersangka Kelola Lebih dari 200 Ribu Akun
Penundaan 11 Jam Sriwijaya Air SJ-581, Penumpang Mengeluhkan Minimnya Kompensasi dan Komunikasi
PSM Makassar Kalahkan Bhayangkara 2-1, Modal Penting Jauhi Zona Degradasi Liga 1