Purwokerto - Batas aman di sekitar kawah Gunung Slamet kini diperluas. Dari sebelumnya dua kilometer, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan radius bahaya menjadi tiga kilometer. Langkah ini diambil menyusul tren peningkatan aktivitas vulkanik yang cukup mengkhawatirkan.
Kabar itu disampaikan langsung oleh Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Slamet, Muhammad Rusdi, ketika dihubungi dari Purwokerto, Sabtu sore. Ia menjelaskan, keputusan resmi ini tertuang dalam sebuah laporan khusus bernomor 631.Lap/GL.03/BGL/2026, yang ditandatangani oleh Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria.
"Peningkatan aktivitas ini sudah kami deteksi sejak akhir Maret lalu," ujar Rusdi dari Pos PGA Slamet di Desa Gambuhan, Pemalang.
Menurutnya, awal mula kekhawatiran itu muncul dari pola gempa yang tidak biasa. Untuk memastikan, tim kemudian melakukan pemantauan udara menggunakan drone. Hasilnya? Ada indikasi yang jelas.
"Dari citra udara itu, terlihat kenaikan suhu di area kawah yang cukup signifikan," katanya.
Di sisi lain, Rusdi juga berpesan agar warga di lima kabupaten sekitar Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes tidak panik. Ia meminta masyarakat bersikap tenang dan kritis terhadap informasi yang beredar, sekaligus mengajak untuk selalu merujuk pada sumber resmi.
"Kalau butuh info lebih lanjut, silakan hubungi kami atau BPBD setempat," imbuhnya.
Sementara itu, dalam laporan khusus bertanggal 4 April 2026 itu, Plt. Kepala Badan Geologi Lana Saria merinci alasan di balik perluasan radius. Ternyata, ada beberapa perubahan visual dan data instrumental yang jadi pertimbangan utama. Sejak 3 April, teramati embusan gas berwarna putih tebal mencapai ketinggian sekitar 300 meter di atas kawah. Fenomena ini menandakan aktivitas pelepasan gas magmatik dari dalam perut gunung.
Yang lebih mencengangkan adalah data suhu. Analisis citra termal menunjukkan angka yang melonjak drastis. Dari sekitar 247 derajat Celcius pada September 2024, suhu kawah tercatat mencapai 463 derajat Celcius pada awal April 2026. Area anomali panasnya pun meluas, membentuk pola melingkar di seputar dinding kawah.
Dari sisi kegempaan, catatan sejak pertengahan Maret juga menunjukkan peningkatan. Ratusan gempa embusan dan frekuensi rendah terjadi secara fluktuatif, dengan tren yang jelas naik di akhir bulan. Semua data ini, ditambah dengan hasil pemantauan deformasi, mengarah pada satu kesimpulan: ada peningkatan tekanan gas magmatik dan pergerakan magma ke kedalaman yang lebih dangkal.
"Potensi bahaya saat ini berupa erupsi yang dapat menghasilkan abu vulkanik, hujan lumpur, hingga lontaran material pijar di sekitar puncak," jelas Lana Saria dalam laporannya.
Ia juga memperingatkan soal embusan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi dan potensi hujan abu yang jangkauannya tergantung arah angin.
Namun begitu, penting untuk dicatat bahwa status Gunung Slamet sampai saat ini belum berubah. Masih tetap di Level II atau Waspada. Status itu sendiri sudah dinaikkan dari Level I sejak Oktober 2023 lalu.
PVMBG pun mengimbau dengan tegas. Masyarakat, pendaki, dan wisatawan diminta untuk sama sekali tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah puncak. Pemantauan intensif terus dilakukan, dan status akan ditinjau ulang jika ada perubahan signifikan.
Gunung tertinggi di Jawa Tengah ini memang sedang tidak biasa-biasa saja. Semua mata kini tertuju pada data dan laporan dari pos pengamatan, menunggu perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
Ketua TP PKK Tri Tito Karnavian Dorong Deteksi Dini Kesehatan Mental dan TBC pada Pelajar di Alor
Pakistan Mediasi Perundingan Damai Iran-AS di Tengah Kebuntuan Soal Uranium dan Selat Hormuz
TP PKK Gelar Cek Kesehatan Gratis untuk Remaja di Alor, Fokus pada Skrining Mental dan Deteksi TBC
Mendes Yandri Dorong Praja IPDN Aktif Wujudkan Kopdes dan Desa Tematik sebagai Pilar Pembangunan