Menurut Prof. Acep, ijazah yang dijual ini bukan dokumen palsu dalam arti harfiah karena tidak diklaim sebagai ijazah resmi. "Kami tidak mendaftarkan ijazah ini ke KPU sebagai syarat menjadi pejabat publik. Ini adalah satir yang serius," ungkap Acep.
Respon Pengunjung Terhadap Ijazah Satir
Salah satu pengunjung yang mendapatkan ijazah tersebut adalah Iwan Pirous, anak dari pencetus Pasar Seni ITB A.D. Pirous. Menurutnya, ijazah merupakan bentuk simbolik kapital yang lebih tinggi dari uang.
"Orang akan silau dengan ijazah. Tidak akan tahu apakah itu palsu atau asli. Tapi menurut saya, ijazah ini bukanlah ijazah palsu karena orang yang menandatangani itu asli ada," ujar Iwan Pirous.
Pengunjung lain berkelakar tentang ijazah yang mereka dapatkan. "Kalau saya beli, bisa jadi presiden ga?" tanya salah satu pengunjung.
Pengalaman Wisuda Sehari
Setelah mendapatkan ijazah, pengunjung dapat berfoto menggunakan toga layaknya wisudawan, lengkap dengan selempang bertuliskan "Doktor Sehari" atau "Profesor Sehari". Aktivitas ini menarik minat berbagai kalangan, termasuk anak-anak yang difoto dengan harapan dapat mengenyam pendidikan tinggi di masa depan.
"Belum sekolah sudah jadi doktor. Semoga manifesting bisa bersekolah sampai doktor di ITB," harap orang tua yang mengantar anaknya ke Pasar Seni ITB.
Artikel Terkait
Ribuan Pejabat Serbu Sentul, Warga Diminta Waspadai Macet
Duka dan Tuntutan Ibu di Deli Serdang: Anaknya Tewas di Kapal Korea, Hak Asuransi Masih Mengambang
Bareskram Bongkar Kasus Saham Gorengan, IHSG Anjlok Terimbas
Di Balik Viralnya Lea: Perjuangan Seorang Ibu Melawan Kanker di Rumah Kontrakan Hijau