Dokter Gaza Disiksa Israel, Presiden Kolombia Beri Penghargaan Tertinggi: Apa Alasannya?

- Minggu, 19 Oktober 2025 | 07:00 WIB
Dokter Gaza Disiksa Israel, Presiden Kolombia Beri Penghargaan Tertinggi: Apa Alasannya?

Presiden Kolombia Anugerahkan Ordo Boyaca kepada Dokter Palestina Hussam Abu Safiya

Presiden Kolombia Gustavo Petro mengumumkan akan menganugerahkan Ordo Boyaca, penghargaan tertinggi Kolombia, kepada Hussam Abu Safiya, dokter Palestina yang menjadi pahlawan nasional. Menurut jaringan TV Al Jazeera Qatar, penghargaan ini disebut Petro sebagai bentuk pengakuan terhadap ketangguhan dan pengorbanan yang ditunjukkan oleh Abu Safiya.

Profil Dokter Hussam Abu Safiya

Hussam Abu Safiya adalah dokter anak Palestina yang menjabat sebagai direktur Rumah Sakit Kamal Adwan di Jalur Gaza utara. Ia dikenal karena dedikasinya yang tak kenal lelah dalam merawat pasien di tengah kondisi berbahaya, meskipun rumah sakit berulang kali dibombardir dan mengalami kekurangan pasokan medis yang parah.

Penahanan oleh Israel

Hussam Abu Safiya telah ditahan oleh Israel sejak 27 Desember 2024. Penangkapan terjadi ketika pasukan Israel melakukan penggerebekan di rumah sakit, membakar sebagian besar fasilitas, dan memaksa pasien serta warga sipil yang mengungsi untuk melarikan diri.

Yang membuat kisahnya lebih heroik, Dr. Abu Safiya sebelumnya menolak perintah Israel untuk meninggalkan rumah sakit tersebut - fasilitas kesehatan besar terakhir di Gaza Utara. Meskipun kehilangan putra dan rumahnya dalam serangan Israel serta menderita luka-luka, ia tetap berkomitmen pada pekerjaannya merawat korban.

Status Terkini Penahanan

Hingga kini, Hussam Abu Safiya masih ditahan Israel. Pihak Israel menolak tuntutan Hamas untuk memasukkan namanya dalam daftar tahanan Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran tawanan pada 13 Oktober lalu.

Perpanjangan Penahanan Tanpa Dakwaan

Pengadilan militer Israel baru-baru ini memperpanjang penahanan administratif terhadap dokter Gaza, Hussam Abu Safiya, selama enam bulan lagi. Keputusan ini dikonfirmasi oleh perwakilan hukum dan keluarganya pada Kamis (16/10/2025).

Keluarga Dr. Abu Safiya menyatakan keprihatinan mendalam atas penahanannya yang sewenang-wenang tanpa dakwaan maupun pengadilan, sejak ia diculik oleh pasukan Israel dari Rumah Sakit Kamal Adwan.

Kekhawatiran Organisasi HAM

Pusat Al-Mezan untuk Hak Asasi Manusia, yang mewakili direktur rumah sakit tersebut, menyatakan kekhawatiran serius terhadap situasi Abu Safiya. Organisasi ini menegaskan bahwa penahanan tanpa dakwaan terhadap Dr. Abu Safiya, di tengah laporan penyiksaan dan kondisi tidak manusiawi, menunjukkan bahwa ia ditahan sebagai sandera.

Al-Mezan memperingatkan bahwa Israel kemungkinan menggunakan penahanan Dr. Abu Safiya, bersama ribuan tahanan Palestina lainnya, sebagai alat tawar-menawar politik dalam negosiasi gencatan senjata.

Kondisi Penahanan dan Penyiksaan

Dr. Abu Safiya sebelumnya ditahan di kamp militer Sde Teiman, yang terkenal karena penyiksaan sistematis terhadap warga Palestina. Ketika pengacara Al-Mezan akhirnya diizinkan menemuinya pada Februari 2025, setelah 47 hari tanpa akses ke penasihat hukum, Dr. Abu Safiya mengonfirmasi bahwa ia disiksa dan diperlakukan secara tidak manusiawi.

Ia menceritakan bagaimana dipaksa telanjang, duduk di atas kerikil tajam selama berjam-jam, dan dipukuli dengan tongkat serta alat kejut listrik. Kesehatannya menurun drastis akibat penyiksaan, kelaparan, dan kondisi penahanan yang kejam.

Dukungan Internasional

Amnesty International menggambarkan penangkapannya sebagai "cerminan dari kebijakan sistematis Israel yang menargetkan para tenaga medis Palestina dan menghancurkan sistem kesehatan di Gaza". Seruan untuk membebaskan Dr. Abu Safiya kini semakin meluas di seluruh dunia, dengan penghargaan dari Presiden Kolombia menjadi bentuk pengakuan internasional terbaru terhadap perjuangannya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar