Mengenang Baek Se Hee, Penulis Buku Laris yang Meninggal Dunia dan Donorkan Organ
Dunia sastra berduka. Baek Se Hee, penulis buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis, 16 Oktober 2025. Penulis asal Korea Selatan ini menghembuskan napas terakhir di usia 35 tahun.
Warisan Kemanusiaan Melalui Donasi Organ
Warisan Baek Se Hee tidak hanya berupa tulisan. Menurut Korea Organ Donation Agency, ia mendonasikan organ tubuhnya setelah meninggal. Donasi jantung, paru-paru, hati, dan ginjalnya dikabarkan telah berhasil menyelamatkan lima nyawa. Sang adik menyatakan bahwa Se Hee selalu ingin berbagi dan menebar harapan, baik melalui karya tulis maupun tindakannya.
Buku yang Mengubah Percakapan tentang Kesehatan Mental
Buku I Want to Die but I Want to Eat Tteokbokki pertama kali terbit di Korea Selatan pada tahun 2018. Buku ini berisi transkrip percakapan jujurnya dengan seorang psikiater mengenai perjuangannya melawan dysthymia, sebuah bentuk depresi kronis ringan yang dialaminya selama satu dekade.
Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Anton Hur pada 2022, buku ini menjadi fenomena global. Karyanya terjual lebih dari satu juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam 25 bahasa. Buku ini dianggap berjasa besar dalam menormalkan percakapan tentang kesehatan mental di Korea Selatan, yang sebelumnya sering dianggap tabu.
Kutipan terkenalnya, "The human heart, even when it wants to die, quite often wants at the same time to eat some tteokbokki, too," menjadi simbol perjuangan banyak orang.
Profil dan Karier Baek Se Hee
Baek Se Hee adalah perempuan kelahiran tahun 1990. Ia merupakan lulusan jurusan penulisan kreatif dan pernah bekerja selama lima tahun di sebuah penerbitan di Seoul. Kesuksesan buku pertamanya diikuti dengan sekuel berjudul I Want to Die but I Still Want to Eat Tteokbokki, yang terbit dalam bahasa Korea pada 2019 dan dalam bahasa Inggris pada 2024.
Duka dan Penghormatan
Kepergian Baek Se Hee ditanggapi dengan duka mendalam oleh para pembaca dan rekan-rekannya. Anton Hur, penerjemah bukunya, menyampaikan belasungkawa dan menyebut Se Hee sebagai pribadi yang berani, lembut, dan jujur. Meskipun telah tiada, tulisannya akan terus menjadi sumber kekuatan dan pemahaman bagi banyak orang yang berjuang melawan depresi.
Artikel Terkait
Persib dan Borneo FC Imbang Poin di Puncak Klasemen, Laga Kontra Persija Jadi Penentu Gelar Liga 1
Empat Korban Penyiraman Air Keras di Tasikmalaya Masih Dirawat Intensif, Pelaku Terungkap Motif Sakit Hati
Borneo FC Kalahkan Persita 2-0, Manfaatkan Keunggulan Jumlah Pemain
Polda NTT Bongkar 27 Kasus Penyalahgunaan BBM Subsidi, Negara Rugi Rp10,16 Miliar