TERUNGKAP! Ini Dua Sosok Besar & Berpengaruh Yang Namanya Disebut-Sebut Hendropriyono Sebagai Dalang Demo di DPR

- Senin, 01 September 2025 | 02:00 WIB
TERUNGKAP! Ini Dua Sosok Besar & Berpengaruh Yang Namanya Disebut-Sebut Hendropriyono Sebagai Dalang Demo di DPR




MURIANETWORK.COM - Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal (Purn) AM Hendropriyono mengklaim adanya aktor yang disebutnya menjadi dalang di balik aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI.


Menurut Hendro, unjuk rasa tersebut tidak sepenuhnya murni, melainkan ada pihak yang memanfaatkannya. 


Ia menyebut ada "tangan-tangan" yang bermain di balik aksi tersebut.


Meski mengaku sudah mengetahui siapa dalang yang dimaksud, Hendro menegaskan belum saatnya ia membuka identitas pihak tersebut.


Guru besar di bidang intelijen ini menambahkan, sosok yang ia maksud bukanlah seorang negarawan atau non-state actor. 


Kendati demikian, pengaruhnya disebut sangat kuat hingga memengaruhi kebijakan negara tempat ia tinggal.


“Kebijakannya itu langkah-langkahnya kita baca selalu pas dengan usulan dari non-state. Non-state tapi isinya George Soros, isinya George Tenet, isinya tadi saya sampaikan David Rockefeller, Bloomberg. Baca sendirilah, kaum kapitalis begitu. Itu yang usul,” ucap Hendro.


Ia menjelaskan, pihak asing itu menggerakkan jaringan atau kaki tangannya yang berada di Indonesia. 


Bahkan, kata Hendro, para kaki tangan tersebut kemungkinan tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanfaatkan untuk kepentingan pihak lain.


Siapa George Soros?




George Soros dikenal sebagai investor kawakan, miliarder, sekaligus filantropis asal Hungaria–Amerika Serikat.


Namanya kerap dikaitkan dengan spekulasi besar di pasar keuangan, bahkan tak jarang menjadi bahan teori konspirasi terkait krisis ekonomi di sejumlah negara.


Soros lahir di Budapest, Hungaria, pada 12 Agustus 1930 dengan nama György Schwartz. Masa kecilnya diwarnai suasana mencekam Perang Dunia II.


Berasal dari keluarga Yahudi, ia menyaksikan langsung bagaimana lebih dari 500.000 orang Yahudi Hungaria menjadi korban pembantaian Nazi pada 1944–1945.


Keluarganya berhasil selamat dengan menyembunyikan identitas asli mereka menggunakan dokumen palsu, bahkan membantu orang lain melakukan hal yang sama.


“Alih-alih menyerah pada nasib, kami melawan kekuatan jahat yang jauh lebih kuat daripada kami, namun kami menang. Kami tidak hanya bertahan hidup, tetapi juga berhasil membantu orang lain,” kenang Soros, dikutip dari laman pribadinya, georgesoros.com.


George Soros dan Krisis Keuangan




Usai perang, Hungaria jatuh ke rezim komunis. Soros memutuskan meninggalkan Budapest pada 1947 menuju London. 


Untuk membiayai kuliahnya di London School of Economics, ia bekerja paruh waktu sebagai kuli di stasiun kereta hingga pelayan klub malam.


Pada 1956, Soros hijrah ke Amerika Serikat. Di sana ia meniti karier di sektor keuangan hingga akhirnya pada 1970 mendirikan Soros Fund Management, yang berkembang menjadi salah satu hedge fund paling sukses di dunia. Ia juga menjadi pendiri Quantum Fund.


Popularitas Soros memuncak pada September 1992. Kala itu, ia bersama Quantum Fund menjual miliaran pound sterling menggunakan dana pinjaman, lalu membeli kembali setelah nilai mata uang Inggris anjlok.


Strategi ini membuatnya meraup untung sekitar 1 miliar dollar AS dan mendapat julukan “orang yang menghancurkan Bank of England.”


Namun, tidak semua spekulasi Soros berjalan mulus. Pada 1994, ia menderita kerugian besar akibat salah prediksi terhadap nilai tukar yen Jepang


Bahkan, pada Februari tahun yang sama, dana kelolaannya sempat merosot ratusan juta dollar hanya dalam sehari.


Krisis Ekonomi Asia 1997




Nama Soros kembali mencuat saat krisis finansial Asia 1997. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menudingnya sebagai penyebab kejatuhan ringgit


Meski begitu, catatan menunjukkan dana Soros justru ikut merugi miliaran dolar dalam krisis tersebut.


Ia sempat bangkit lewat keuntungan dari saham internet pada 1999, meski kemudian berinvestasi lebih hati-hati setelah gelembung teknologi pecah pada 2000.


George Soros juga pernah berurusan dengan hukum. Pada 2002, ia dijatuhi denda sebesar 2,2 juta euro (sekitar 2,9 juta dolar AS) oleh pengadilan Prancis karena kasus insider trading terkait saham Société Générale pada 1988. Upaya bandingnya ditolak pada 2006.


Beberapa tahun kemudian, Soros memutuskan Quantum Fund tidak lagi mengelola dana pihak luar, melainkan hanya mengurus aset pribadi dan keluarganya.


Belum lama ini, George Soros juga dituding Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu dalang kerusuhan di negaranya yang terjadi beberapa waktu lalu.


Trump bahkan mengancam akan memenjarakan George Soros dan anaknya dengan Undang-Undang Racketeer Influenced and Corrupt Organizations (RICO), aturan federal yang biasa digunakan untuk menindak jaringan kejahatan terorganisir.


Mengenal David Rockefeller




David Rockefeller, cucu pendiri Standard Oil sekaligus konglomerat asal Amerika Serikat, John D. Rockefeller, wafat pada 20 Maret 2017 dalam usia 101 tahun. 


Namanya tercatat sebagai miliarder tertua di daftar orang terkaya dunia versi Forbes pada tahun tersebut, dengan total kekayaan mencapai 3,3 miliar dolar AS.


Selain dikenal sebagai pewaris dinasti Rockefeller, David juga pernah aktif di dunia intelijen. 


Ia bertugas di Afrika Utara dan Prancis sebagai bagian dari intelijen militer pada masa Perang Dunia II.


Setelah keluar dari dinas militer, David memimpin Chase National Bank selama bertahun-tahun dan dikenal luas sebagai seorang filantropis. 


Salah satu kontribusi besarnya adalah donasi senilai 150 juta dolar AS kepada Museum Seni Modern New York, lembaga yang didirikan ibunya.


Mantan Wali Kota New York sekaligus sahabatnya, Michael Bloomberg, pernah mengatakan, “Tidak ada sosok lain yang memberi sumbangan lebih besar bagi dunia bisnis dan kehidupan sipil New York selama periode panjang selain David Rockefeller.”


Sumber: Kompas

Komentar