Hidrogen Lolos Uji di Bali: Rasio Campuran Capai 23% untuk Pembangkit Lebih Bersih

- Senin, 01 Desember 2025 | 14:30 WIB
Hidrogen Lolos Uji di Bali: Rasio Campuran Capai 23% untuk Pembangkit Lebih Bersih

Di Bali, tepatnya di PLTDG UBP Pesanggaran, PLN Indonesia Power baru saja menyelesaikan serangkaian uji coba. Kali ini, mereka menguji lanjutan teknologi cofiring hidrogen. Pengujian pra-operasi yang digelar pada 18-20 November 2025 itu sebenarnya merupakan kelanjutan dari eksperimen serupa tahun sebelumnya. Menariknya, proses ini disaksikan langsung oleh Agus Pramono, salah satu anggota Dewan Energi Nasional (DEN).

Lalu, apa sih tujuan dari semua ini? Menurut Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, uji coba ini bukan sekadar eksperimen biasa.

"Pengujian ini dilakukan untuk melihat potensi penerapan hidrogen di asat pembangkitan kami, sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060,"

jelas Bernadus dalam keterangannya, Senin (1/12). Intinya, ini adalah langkah nyata perusahaan dalam menjelajahi teknologi energi bersih untuk masa depan.

Nah, detail teknisnya cukup menarik. Hedwig Lunga Sampe Pajung, VP Technology Development perusahaan, membeberkan bahwa pengujian tahun ini dilakukan dengan tiga variasi beban mesin: 75%, 85%, dan 100% kapasitas. Hasilnya, rasio hidrogen yang berhasil dicampurkan bervariasi. Di beban 75%, rasionya mencapai 23%. Saat dinaikkan ke 85%, rasio turun sedikit jadi 22%. Dan pada beban penuh 100%, rasio hidrogen yang aman tercatat 17%. Pendekatan bertahap ini jelas punya maksud: untuk mengamati perilaku mesin dalam berbagai kondisi dan mencari tahu batas aman penggunaan hidrogen.

Di sisi lain, dari segi peralatan, mereka menggunakan Pressure Regulator System (PRS) yang dikendalikan oleh Programmable Logic Controller (PLC) dan antarmuka HMI. Sistem canggih ini dirancang untuk mengatur injeksi hidrogen agar lebih stabil dan presisi, sehingga mengurangi risiko dalam prosesnya.

Yang menggembirakan, hasil awal uji coba menunjukkan tanda-tanda positif. Ada indikasi peningkatan efisiensi pembakaran. Bahkan, konsumsi energi total dari campuran gas alam dan hidrogen dilaporkan lebih irit dibandingkan jika hanya menggunakan gas alam murni. Bonus lainnya, emisi karbon monoksida (CO) juga terpantau turun saat cofiring dilakukan.

Uji coba ambisius ini tentu bukan kerja satu pihak. Kolaborasinya melibatkan beberapa pakar. Institut Teknologi Bandung (ITB) berperan sebagai konsultan perencana dan pelaksana. Untuk pengembangan dan pembuatan sistem PRS, PLN menggandeng PDG. Sementara konsultasi teknis dari sisi pabrikan mesin ditangani oleh Wartsila.

Dengan rangkaian pengujian ini, PLN Indonesia Power sedang serius mengevaluasi peran hidrogen. Mereka ingin melihat sejauh mana bahan bakar masa depan ini bisa diandalkan untuk mendukung strategi dekarbonisasi pembangkit listrik di Indonesia. Langkah kecil hari ini, bisa jadi fondasi besar untuk listrik yang lebih bersih besok.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar