Data Kementerian Perdagangan menunjukkan Indonesia masih mengimpor barang dari Israel hingga pertengahan 2026, hampir tiga tahun setelah genosida di Gaza. Angka impor bahkan sempat melonjak tajam pada 2024, tahun ketika serangan Israel menghancurkan rumah sakit dan menewaskan ribuan warga sipil.
Impor dari Israel tercatat sekitar 22 juta dolar AS pada 2023, lalu melonjak menjadi lebih dari 54 juta dolar pada 2024. Pada 2025, impor turun sekitar 27 persen, tetapi pada pertengahan 2026 kembali naik. Kondisi ini kontras dengan sikap publik Indonesia yang gencar memboikot produk Israel dan menggelar demonstrasi besar-besaran selama tiga tahun terakhir.
Di tengah tekanan publik, pemerintah Indonesia berulang kali menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina dan menegaskan tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Namun, perdagangan tidak membutuhkan hubungan resmi. Aliran uang terus berjalan, dan data menunjukkan perdagangan tidak pernah berhenti.
Kesenjangan antara sikap politik dan praktik perdagangan ini sulit diabaikan. Warga memboikot, sementara kementerian terus mengimpor. Pemerintah berdalih bahwa perdagangan antar bisnis terpisah dari politik, tetapi argumen itu lemah ketika bisnis tersebut membantu menjaga perekonomian negara yang melakukan genosida tetap berjalan.
Pola yang lebih luas
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Banyak negara yang menyuarakan dukungan terhadap Palestina di depan umum, tetapi tetap membuka pintu perdagangan dengan Israel. Solidaritas sejati membutuhkan pengorbanan. Jika tidak ada biaya yang harus dibayar, itu bukan solidaritas, melainkan sekadar retorika.
Rakyat Indonesia telah memahami hal ini. Mereka turun ke jalan sejak awal konflik. Kini, pemerintah perlu mengejar ketertinggalan, begitu pula pemerintah lain yang bersembunyi di balik pernyataan manis sementara angka perdagangan mereka terus meningkat.
Boikot masyarakat memang penting, tetapi dampaknya terbatas tanpa tindakan pemerintah. Jika pemerintah Indonesia serius mendukung Palestina, mereka harus menghentikan impor dari Israel secara total dan permanen, bukan sekadar penurunan sementara yang kemudian pulih kembali. Tanpa itu, semua pernyataan dukungan hanyalah kata-kata kosong yang bertentangan dengan data perdagangan yang ada.
Artikel Terkait
Anwar Ibrahim Tegas: Warga Israel Harus Tinggalkan Malaysia, Ancaman AS Tak Mengubah Sikap
Hamas dan Israel Capai Kesepakatan soal Pelucutan Senjata dan Penarikan Pasukan dari Gaza
Amnesty International: India Terus Pasok Senjata ke Israel Meski Ada Risiko Genosida di Gaza
Israel Kembali Serang Gaza, 1.207 Orang Tewas Sejak Gencatan Senjata