Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, menegaskan kembali sikap negaranya yang tidak mengakui Israel dengan meminta seorang warga negara ganda Israel-Amerika untuk meninggalkan Malaysia. Warga tersebut ditemukan menghadiri sebuah acara retret teknologi di Johor, dan permintaan itu disampaikan langsung oleh Anwar.
Sikap tegas ini memicu respons dari Amerika Serikat. Washington memanggil duta besar Malaysia, dan delapan anggota Kongres AS memberikan tenggat waktu 15 hari bagi Kuala Lumpur untuk mengubah kebijakannya. Jika tidak, Malaysia terancam kehilangan pendanaan pendidikan militer dari AS.
Namun, Anwar tidak bergeming. “Itu tidak akan mengubah pendirian kami,” ujarnya, menegaskan bahwa prinsip lebih berharga daripada tekanan asing.
Langkah ini menunjukkan komitmen Malaysia terhadap perjuangan Palestina, meskipun harus berhadapan dengan ancaman dari negara adidaya. Anwar tampaknya siap mengambil risiko demi mempertahankan prinsip yang diyakininya.
Artikel Terkait
Hamas dan Israel Capai Kesepakatan soal Pelucutan Senjata dan Penarikan Pasukan dari Gaza
Amnesty International: India Terus Pasok Senjata ke Israel Meski Ada Risiko Genosida di Gaza
Israel Kembali Serang Gaza, 1.207 Orang Tewas Sejak Gencatan Senjata
Empat Warga Palestina Tewas dalam Serangan Udara Israel di Tengah Perundingan Damai Gaza