Debat Kabinet Bayangan di Kompas TV, Staf Ahli BUMN Dikritik karena Sikap dan Cara Berbicara

- Sabtu, 01 Agustus 2026 | 07:00 WIB
Debat Kabinet Bayangan di Kompas TV, Staf Ahli BUMN Dikritik karena Sikap dan Cara Berbicara

Debat antara akademisi dan perwakilan pemerintah dalam acara Rosi Kompas TV yang tayang pada 30 Juli 2026 berlangsung memanas. Feri Amsari, akademisi yang ditunjuk sebagai Menteri Sekretaris Negara dalam Kabinet Bayangan, berhadapan dengan Suroto, Staf Ahli Koperasi di PT Agrinas Pangan Nusantara, BUMN yang mengelola program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Diskusi yang seharusnya menjadi ajang adu gagasan justru menuai kritik tajam dari warganet dan pengamat. Burhan Muhtadi, peneliti yang turut menyaksikan jalannya acara, menyayangkan sikap Suroto yang dinilai tidak menunjukkan adab berdiskusi yang baik. "Adab berdiskusinya jelek banget. Suka memotong, kurang mendengar, suara melengking tanpa isi dan argumen," tulisnya melalui akun media sosial.

Kritik serupa juga disampaikan sejumlah netizen yang menonton tayangan tersebut. Beberapa di antaranya menyoroti perubahan sikap Suroto yang dianggap drastis setelah diangkat menjadi staf ahli di BUMN. Sebelumnya, ia dikenal kerap mengkritik program KDKMP, namun kini justru membelanya mati-matian.

"2025 kritik KDMP habis-habisan di Kompas, 2026 jadi staf ahli langsung balik badan bela mati-matian. Duit!" tulis salah satu warganet. Yang lain menambahkan, "Tipikal yes man biasanya gitu pak kalau menghadapi lawan bosnya, gas dulu benar salah belakangan yang penting lawan bicara terintimidasi."

Kabinet Bayangan sendiri merupakan inisiatif sejumlah akademisi dan aktivis masyarakat sipil untuk mengawasi kinerja Kabinet Merah Putih. Sebanyak 15 tokoh terpilih mengisi formasi kabinet tandingan ini, dengan Feri Amsari sebagai salah satu pengisi posisi kunci.

Dalam acara yang disiarkan langsung tersebut, Feri Amsari mencoba menjawab berbagai kritik yang dialamatkan pada Kabinet Bayangan. Namun, jalannya dialog dinilai tidak produktif karena seringkali terpotong oleh interupsi dari pihak pemerintah.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags