Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio bertemu dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun pada Minggu (19/7) untuk membahas implementasi perjanjian kerangka kerja yang ditengahi AS antara Israel dan Lebanon. Kesepakatan yang ditandatangani pada 26 Juni itu bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan.
Dalam pertemuan tersebut, Rubio memuji langkah pemerintah Lebanon di bawah kepemimpinan Aoun yang dinilai berani dalam upaya merebut kembali kedaulatan negara, melucuti senjata Hizbullah, dan membongkar infrastruktur teroris kelompok itu. "Menteri memuji keberanian Pemerintah Lebanon, di bawah kepemimpinan Presiden Aoun, atas upaya mereka yang gigih untuk merebut kembali kedaulatan Lebanon, melucuti senjata (Hizbullah) dan membongkar infrastruktur terorisnya, serta bergerak menuju perdamaian," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri Tommy Pigott dalam pernyataan resmi.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai isi pertemuan tersebut. Sehari sebelumnya, Aoun terbang dari Beirut menuju Washington dan dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump, menurut keterangan resmi kantor presiden Lebanon.
Israel dan Lebanon, yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal, memulai negosiasi yang disponsori AS pada bulan April. Tujuannya mencapai kesepakatan perdamaian dan mengakhiri perang Israel-Hizbullah secara permanen. Pada 26 Juni, kedua pihak menandatangani kerangka kerja di Washington yang mengatur penarikan militer Israel dari Lebanon selatan dan pengerahan tentara Lebanon ke wilayah tersebut.
Kesepakatan itu bergantung pada pelucutan senjata Hizbullah, kelompok militan yang didukung Iran. Hizbullah secara tegas menolak kesepakatan dan negosiasi Israel-Lebanon.
Artikel Terkait
Rubio Puji Langkah Lebanon Lumpuhkan Hizbullah Saat Aoun Kunjungi Washington
Presiden Lebanon Terbang ke Washington untuk Bertemu Trump Bahas Gencatan Senjata
AS di Bawah Trump Kembali Gencar Targetkan ICC, Sanksi hingga Larangan Perjalanan Disiapkan
Korban Tewas di Lebanon Tembus 4.304 Orang, Israel Bersikukuh Tak Tarik Pasukan