Syekh Hamad, Sosok di Balik Kebebasan Al Jazeera

- Rabu, 15 Juli 2026 | 13:25 WIB
Syekh Hamad, Sosok di Balik Kebebasan Al Jazeera

Pada pagi hari ketika wafatnya Amir Bapak Syekh Hamad bin Khalifa Al Thani diumumkan, saya diminta menulis tentang Al Jazeera dan sosok yang visinya melahirkan jaringan media tersebut. Saya mendapati diri saya bingung harus memulai dari mana: dari Syekh Hamad selaku sosok di balik gagasan dan proyek itu, atau dari Al Jazeera sendiri. Kedua hal tersebut sangat sulit dipisahkan.

Setiap proyek besar selalu berawal dari sebuah gagasan. Langkah itu terjadi sebelum tekad kuat orang-orang di baliknya mengubah mimpi tersebut menjadi kenyataan. Al Jazeera adalah buah pemikiran sejati dari Syekh Hamad. Berkat keteguhan, kegigihan, dan keberaniannya mempertahankan sikap serta keputusan-keputusannya, Al Jazeera mampu menjadi kekuatan media dunia yang mustahil diabaikan seperti sekarang.

Mari saya putar kembali kamera kehidupan sekitar tiga puluh tahun yang lalu. Secara kebetulan yang luar biasa, pada pagi yang sama BBC mengumumkan penutupan layanan televisi berbahasa Arabnya. Penutupan tersebut dilakukan kurang dari dua tahun setelah stasiun itu mulai mengudara. Pintu ruang redaksi tiba-tiba ditutup bagi kami dan kami kembali harus mencari pekerjaan baru. Tak lama kemudian, seorang rekan datang membawa kabar baik bahwa sebuah tim Qatar di London sedang merekrut jurnalis untuk saluran berita televisi baru. Saluran tersebut akan diluncurkan langsung di Doha, Qatar.

Kabar yang beredar menyebutkan bahwa saluran itu akan bebas memberitakan berita dan menayangkan program dialog sesuai dengan nilai berita. Prinsip tersebut diadopsi sebagaimana dilakukan oleh stasiun-stasiun televisi terkemuka di Barat. Benarkah hal luar biasa seperti itu mungkin terjadi di sebuah negara Arab? Sungguh menyedihkan bahwa pertanyaan penuh keraguan seperti itu harus muncul pada masa itu.

BBC menutup pintunya bagi kami. Namun, Al Jazeera justru membukanya dengan lebar. Pada 1 Juni 1996, pesawat kami akhirnya mendarat di bandara lama Doha. Rekan sekaligus sahabat saya, almarhum Ahmed Al-Shouli, tampak mengenakan setelan jas dan dasi yang rapi. Ketika pintu pesawat dibuka dan udara panas menyergap masuk, ia menoleh kepada saya seraya berbisik, "Seandainya saja aku bepergian seringan dirimu," ucapnya.

Ruang redaksi pertama kami berukuran sangat kecil. Tepat di sebelahnya, terdapat sebuah studio siaran yang juga berukuran mini. Di bagian belakang gedung, hanya ada lima ruang penyuntingan kecil, perpustakaan kaset, kantor pemimpin redaksi, serta ruangan untuk direktur jenderal beserta stafnya. Jelas sekali bahwa gagasan mendirikan saluran televisi ini telah lama berkembang dalam benak sang konseptor proyek. Fondasinya telah disiapkan dengan matang bahkan sebelum para jurnalis, teknisi, dan administrator didatangkan untuk mengisi ruang redaksi. Sama jelasnya bahwa mereka yang merancang gedung tersebut tidak pernah membayangkan betapa cepatnya saluran ini akan berkembang pesat. Namun bagi kami semua, tempat sederhana itu adalah sebuah rumah yang sangat hangat. Keakraban di dalamnya justru memberi kami energi dan tekad yang lebih besar untuk membangun sebuah saluran televisi yang kuat.

Kami berkomitmen menyaingi media-media global yang telah lebih dahulu berdiri. Selain itu, kami ingin mengubah keseimbangan informasi dunia antara Utara dan Selatan Global. Selama lima bulan masa siaran percobaan, tim kami tumbuh semakin kuat dan solid dari hari ke hari. Namun, kami semua sempat bertanya-tanya apakah kebebasan yang dijanjikan kepada kami benar-benar nyata. Keraguan tersebut perlahan menghilang setiap kali kami berhasil menyelesaikan sebuah buletin berita. Kami sama sekali tidak melihat adanya campur tangan penguasa terhadap isi berita, laporan, maupun cara sebuah peristiwa diberitakan. Tak lama kemudian, rasa frustrasi kami berubah bentuk menjadi sebuah kebanggaan. Kami berhasil menghasilkan buletin berita yang mampu menandingi kualitas BBC, bahkan melampauinya, tetapi belum ada penonton luas yang dapat menyaksikannya.

Pada 1 November 1996, media Arab akhirnya resmi menemukan suaranya yang merdeka. Dalam buletin berita pertama Al Jazeera, almarhum Jamal Rayyan mengumumkan kepada dunia bahwa saluran tersebut resmi mengudara. Orang yang telah menjanjikan kebebasan redaksi kepada kami benar-benar menepati janjinya secara jantan. Tidak ada foto dirinya terpajang dalam buletin berita itu, dan tidak ada pula berita seremonial tentang dirinya. Masyarakat di seluruh dunia Arab hampir tidak percaya bahwa buletin berita dan program dialog yang mereka saksikan disiarkan langsung dari kawasan Teluk. Selama ini, mereka telah terbiasa dengan televisi milik pemerintah yang hanya memuji penguasa.

Orang di balik gagasan dan proyek besar ini selalu mengawasi perkembangan kami dengan saksama. Ia sesekali datang berkunjung untuk memberikan arahan umum, dorongan semangat, bahkan kadang bercanda bersama kami di ruang redaksi. Namun, Syekh Hamad tidak pernah sekalipun mencampuri sebuah laporan berita ataupun program dialog yang kami produksi. Demikian pula dengan para pembantu setianya yang ia percayai untuk mengawasi proyek besar tersebut. Ia memberikan janji kebebasan pers dan ia menepatinya secara konsisten. Saat itulah kami tahu bahwa keberhasilan besar akan menjadi milik kami.

Dalam hitungan bulan, pihak-pihak global mulai menyadari kemunculan sebuah saluran baru dari wilayah Selatan Global. Mereka mulai menyiarkan ulang laporan-laporan kami karena Al Jazeera beserta para korespondennya hadir di tempat-tempat konflik yang bahkan mereka sendiri enggan memasukinya. Gambar-gambar penderitaan anak-anak di Palestina, Irak, Afghanistan, dan berbagai wilayah tertindas disiarkan secara eksklusif oleh Al Jazeera. Pengakuan dunia itu segera berubah menjadi kesadaran kolektif bahwa Al Jazeera telah mengambil posisi terdepan.

Keberhasilan tersebut menuntut jangkauan yang lebih luas kepada khalayak yang berbahasa selain Arab. Lahirlah Al Jazeera English, disusul dengan kehadiran jaringan ini di dunia digital secara masif. Langkah ini mengubah Al Jazeera dari sebuah saluran televisi biasa menjadi jaringan media internasional yang berbicara kepada seluruh dunia. Jaringan ini menjembatani arus informasi baik di belahan bumi Utara maupun Selatan. Di situlah letak titik terobosan penting kami. Selama puluhan tahun, arus berita global hanya mengalir ke satu arah yang tidak adil. Kamera-kamera Barat merekam dunia hanya melalui mata dan pemahaman Barat. Sudut pandang tersebut sering kali dibentuk oleh bias kolonial dan budaya, baik yang tampak jelas maupun yang tersembunyi di balik narasi berita. Persamaan dalam dunia media pun akhirnya berhasil kami ubah. Kini, berita dapat mengalir dengan seimbang dari Selatan menuju Utara, dilihat melalui mata masyarakat dan tempat asal berita itu sendiri tanpa distorsi. Jangkauan Al Jazeera yang semakin luas juga berhasil mengubah lanskap budaya dan intelektual di Selatan Global. Ia membuka cakrawala pemikiran baru di dunia Islam yang lebih luas, di negara-negara berkembang, bahkan hingga ke Barat yang jauh.

Namun, bertahun-tahun kemudian kami belajar bahwa sebuah keberhasilan sering kali membawa konsekuensi perjuangan yang sangat menyakitkan. Sebagian tekanan datang dari kawasan sekitar kami, dan lebih banyak lagi datang dari tempat-tempat yang lebih jauh. Rezim di kawasan sekitar kami ternyata tidak mampu menerima kebebasan berbicara beserta dampak politiknya. Karena ketakutan tersebut, mereka akhirnya menciptakan musuh bagi diri mereka sendiri. Kantor-kantor cabang Al Jazeera ditutup secara paksa di beberapa negara. Para koresponden kami diburu, ditangkap, bahkan dibunuh di medan laga. Negara yang menjadi tuan rumah jaringan ini pun tidak luput menjadi sasaran serangan diplomasi dan media yang sangat sengit. Inilah fenomena yang kemudian disebut sebagai "Sindrom Al Jazeera." Di luar kawasan Teluk, kantor-kantor Al Jazeera dibom secara brutal oleh kekuatan militer asing. Para reporter dan juru kamera kami dibunuh, dipenjara, serta disiksa demi membungkam kebenaran. Tekanan politik terhadap negara yang menjadi markas besar jaringan ini pun semakin meningkat dari hari ke hari. Namun, Syekh Hamad tidak pernah sekalipun menyerah atau tunduk pada tekanan tersebut.

Dengan keberanian yang menjadi ciri khasnya, ia sering bertanya kepada orang-orang di sekitarnya yang bersikap memusuhi media. "Kapan kalian akan berhenti menganggap kebebasan berbicara sebagai musuh?" tanyanya retoris. Dan kepada mereka yang berada di Barat, ia menyindir dengan tajam. "Bukankah selama bertahun-tahun kalian yang selalu berkhotbah tentang kebebasan berekspresi, demokrasi, dan hak setiap manusia untuk mengetahui?" ucapnya. Syekh Hamad adalah perisai yang sesungguhnya bagi jaringan ini dan bagi semua orang yang bekerja di dalamnya. Beliau bersama orang-orang yang dipercayainya untuk menjalankan Al Jazeera selalu berkata tegas kepada kami. "Satu-satunya garis merah bagi kalian adalah aturan profesi jurnalistik yang jujur. Tidak ada yang lain," tegasnya. Semoga Allah Swt. merahmati sosok agung di balik gagasan dan proyek besar yang bersejarah ini. Kami berjanji akan terus melanjutkan perjalanan dakwah dan informasi di atas jalan merdeka yang telah ia buka.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags