Selama ini, banyak pihak meyakini bahwa kunci peningkatan kualitas guru terletak pada pelatihan. Semakin sering guru mengikuti pelatihan, semakin baik pula kinerjanya. Anggapan itu mendorong sekolah dan pemerintah menggelontorkan waktu, tenaga, serta anggaran besar untuk program pengembangan profesional. Namun, setelah bertahun-tahun bergelut di lingkungan sekolah, seorang pengajar justru menemukan keyakinan lain: pelatihan bukanlah tempat perubahan terjadi. Pelatihan hanya membuka pintu. Perubahan sesungguhnya baru dimulai ketika guru kembali ke kelas.
Di ruang kelas, semua gagasan diuji. Tidak ada fasilitator yang memberi arahan, tidak ada rekan diskusi, dan tidak ada suasana yang membangkitkan semangat sesaat. Yang tersisa hanyalah guru, murid-muridnya, dan dinamika yang tak pernah sama setiap hari. Karena itu, perubahan tidak bisa diukur dari banyaknya sertifikat yang dimiliki guru. Ukuran yang lebih tepat adalah kebiasaan baru yang tampak dalam keseharian: cara guru menyambut murid di pagi hari, kesediaannya mendengar pendapat berbeda, keberaniannya mencoba strategi baru, atau kesabarannya mendampingi murid yang kesulitan. Hal-hal sederhana itu sering kali lebih bermakna daripada slogan tentang inovasi pendidikan.
Perubahan jarang berlangsung dramatis. Ia tumbuh perlahan, bahkan sering tidak disadari oleh yang mengalaminya. Seperti pertumbuhan seorang anak: orang tua yang bertemu setiap hari merasa anaknya tidak banyak berubah, tetapi kerabat yang datang setelah beberapa bulan langsung melihat perbedaan. Demikian pula dengan guru. Guru yang terus belajar mungkin tidak merasa berubah dari minggu ke minggu. Namun jika ia membandingkan cara mengajarnya sekarang dengan dua atau tiga tahun lalu, ia akan menemukan banyak hal yang dulu dianggap biasa kini sudah ditinggalkan. Ia menjadi lebih sabar, lebih terbuka menerima masukan, lebih percaya pada kemampuan murid, dan lebih menikmati proses belajar bersama.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Carol Dweck tentang growth mindset. Menurutnya, kemampuan seseorang bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan kemauan memperbaiki diri. Dalam konteks pendidikan, guru yang memiliki pola pikir bertumbuh tidak melihat kritik sebagai ancaman, melainkan sebagai kesempatan untuk berkembang.
Karena itu, sekolah seharusnya tidak hanya mengapresiasi hasil akhir, tetapi juga menghargai proses perubahan yang sedang dijalani guru. Tidak semua perubahan langsung menghasilkan prestasi yang tampak. Ada perubahan yang baru terlihat setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Namun justru perubahan yang tumbuh perlahan itulah yang biasanya bertahan lebih lama.
Pengalaman di SD dan SMP Hikmah Teladan menunjukkan bahwa perubahan lebih mudah terjadi ketika guru memiliki ruang untuk saling belajar. Forum guru, diskusi paralel, refleksi berkala, dan percakapan informal sering menjadi tempat lahirnya gagasan sederhana yang kemudian mengubah praktik pembelajaran. Bukan karena ada kewajiban, melainkan karena tumbuh keinginan untuk menjadi lebih baik bersama.
Di sinilah perbedaan antara sekolah yang berkembang dan sekolah yang berjalan di tempat. Sekolah yang berkembang tidak menunggu perubahan datang dari luar. Mereka membangun kebiasaan belajar di dalam komunitasnya sendiri. Setiap guru menjadi pembelajar, sekaligus menjadi sumber belajar bagi guru lain.
Perubahan bukanlah peristiwa yang selesai dalam satu hari. Ia adalah perjalanan panjang yang ditempuh melalui keberanian mencoba, kerendahan hati menerima masukan, dan kesetiaan merawat kebiasaan baik. Mungkin murid tidak pernah tahu buku apa yang dibaca gurunya, pelatihan apa yang diikutinya, atau sertifikat apa yang dimilikinya. Namun mereka selalu bisa merasakan satu hal: apakah guru di hadapan mereka masih bertumbuh. Dan bagi saya, itulah ukuran perubahan yang paling bermakna. Seorang guru tidak berhenti menjadi pembelajar ketika ia mulai mengajar. Justru karena ia mengajar, ia memilih untuk terus belajar.
Artikel Terkait
Pendidikan Karakter Tak Cuma Tugas Kurikulum, Butuh Dukungan Guru hingga Keluarga
Ketika Guru Takut Menegur: Pelajaran dari Serial Korea untuk Pendidikan Indonesia