"Kalau guru sudah takut menegur, siapa yang akan mendidik?" Pertanyaan itu mengemuka setelah menonton serial Korea Teach You a Lesson yang rilis pada 2026. Di balik adegan aksi, serial ini menyampaikan kritik tajam terhadap dunia pendidikan. Bukan hanya tentang siswa yang melanggar aturan, tetapi juga sekolah yang perlahan kehilangan wibawa sebagai tempat pembentuk karakter.
Serial ini mengikuti tokoh Na Hwa-jin, seorang penyidik di Biro Perlindungan Hak Pendidikan (BPHP) di bawah Kementerian Pendidikan. Penonton disuguhi berbagai konflik sekolah: perundungan, kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, hingga campur tangan orang tua yang membuat guru kesulitan menerapkan aturan. Meski dramatis, persoalan ini sangat dekat dengan realitas pendidikan Indonesia.
Di Indonesia, tantangan serupa masih terjadi. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 329 pengaduan kasus kekerasan di lingkungan pendidikan pada 2023. Perundungan menjadi kasus yang paling banyak dilaporkan, dan banyak korban memilih diam.
Dalam kacamata sosiologi Emile Durkheim, sekolah seharusnya menjadi lembaga yang menanamkan nilai dan norma kepada generasi muda. Pendidikan bukan hanya jembatan ilmu, tetapi juga membentuk karakter siswa agar bisa hidup bersama di masyarakat. Jika guru kehilangan wibawa dan aturan tidak lagi dihormati, fungsi sekolah sebagai agen sosialisasi ikut melemah.
Pada serial Teach You a Lesson, guru digambarkan takut bertindak karena khawatir menjadi masalah. Sebagian siswa merasa memiliki kuasa lebih untuk melanggar aturan tanpa konsekuensi. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya menghadapi persoalan akademik, tetapi juga krisis otoritas dan nilai.
Menurut teori Pierre Bourdieu, sekolah tidak selalu netral karena relasi kuasa memengaruhi penerapan aturan. Dalam serial, siswa dari keluarga berpengaruh cenderung diperlakukan berbeda. Hal itu menggambarkan bahwa kekuasaan dapat memengaruhi keadilan di dunia pendidikan.
Kalimat "Kalau guru takut murid, dunia akan hancur" dalam serial ini menyimpan pesan sederhana. Pendidikan harus memiliki keseimbangan antara perlindungan siswa dan kewenangan guru untuk mendidik secara profesional dan sesuai aturan. Disiplin tidak boleh digambarkan sebagai kekerasan, tetapi juga tidak boleh dihilangkan demi kebebasan. Tanpa aturan yang dihormati, sekolah kehilangan fungsinya sebagai tempat pembentuk karakter.
Serial ini mengingatkan bahwa pendidikan bukan sepenuhnya tanggung jawab guru, melainkan juga orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Sekolah yang baik bukan yang bebas masalah, melainkan yang mampu menyelesaikan masalah dengan mengutamakan keadilan, tanggung jawab, dan kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya tantangan pendidikan saat ini, pelajaran terbesar dari Teach You a Lesson mungkin bukan tentang bagaimana menghukum siswa yang melanggar aturan, melainkan bagaimana mengembalikan sekolah sebagai tempat yang dihormati semua pihak. Karena ketika guru tak lagi didengar, yang dipertaruhkan bukan hanya wibawa sekolah, tetapi juga masa depan pendidikan itu sendiri.
Artikel Terkait
Perubahan Guru Tak Terjadi di Pelatihan, Melainkan di Kelas
Pendidikan Karakter Tak Cuma Tugas Kurikulum, Butuh Dukungan Guru hingga Keluarga
Pendidikan di Persimpangan: Tangga Mobilitas Sosial atau Pelestari Ketimpangan?
Ratusan Hari Pascabencana, Siswa di Aceh Tengah Masih Belajar di Bawah Tenda